Tampilkan postingan dengan label Media Turki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Turki. Tampilkan semua postingan

Misriani, Gelin Indonesia Pertama di Turki?

11.57.00 1 Comment

"Pertam kali, saya belalajar kata ‘Ben’ (saya), dan ‘Sen’ (kamu, anda). Saya berhasil menyesuaikan dan mempelajari dua kata ini."

[Ilustari. Foto: http://www.vogue.es/]
Sebagai negara yang memiliki sejarah dan peradaban besar, Turki selalu menjadi pilihan destinasi bagi para wisatawan. Salah satunya adalah para pelancong dari kawasan Asia, termasuk negara kita Indonesia. Seiring waktu, Turki bukan hanya dikenal sebagai tujuan wisata bagi Indonesia, tetapi menjadi salah satu negara yang cowok-cowoknya mulai digandrungi oleh sebagian gadis Indonesia. Di antara gadis-gadis yang dipersunting pria Turki, ada seorang ibu yang ditengarai sebagai perempuan pertama yang menikah dengan pria Turki. 

Pernyataan di atas tentu saja butuh diklarifikasi untuk memastikan data, tetapi berdasarkan kronik tahun, Ibu Misriani, wanita asal Banyuwangi, Jawa Timur, mungkin saja menjadi gelin (menentu perempuan) yang masuk generasi kids zaman old. Misriani pernah diwawancarai oleh salah satu media Turki Senoz Deresi tentang cerita hidupnya selama berada di Turki sejak tahun 1985. Berikut ini adalah terjemahan dari wawancaranya yang telah diterbitkan pada 16 Desember 2011.

Misriani lahir pada 22 Agustus 1968 di Banyuwangi adalah bungsu dari tiga bersaudara. İa menyelesaikan pendidikan hingga jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemudian pada tahun 1985 ia tiba di Turki, saat itu usianya 17 tahun. Sebelumnya, Misriani bekerja di sebuah kapal dan bertemu dengan Ismail, pria berkewarganegaraan Turki yang berasal dari kota kecil Çayeli yang berada di Provinsi Rize—wılayah Laut Hıtam. Ringkas cerita, Ismail menikah dengan Misriani dan memulai kehidupan baru di Kota Çayeli. Sebagai seorang gelin—istilah yang digunakan untuk warga asing yang menikah dengan warga negara Turki, ia sudah lama sekali tidak mengunjungi İndonesia dan merasa sangat rindu dengan tana airnya. Meryem Şahin, jurnalis dari Senoz Deresi berjumpa langsung dengan Misriani dan berbincang tentang pengalamannya tinggal di Turki.

Meryem Şahin: Kita mulai dengan cerita tentang kedatangan anda dari Indonesia ke Çayeli. Bagaimana perjumpaan anda dengan suami?

Misriani: Nama suami saya, İsmail. Saat datang ke Indonesia, ia bermaksud untuk memulai bisnis. Di waktu itu, saya juga sedang mencari pekerjaan sebagai penerjemah. Dan awalnya, Ismail adalah teman dari paman saya. Sejak momen itu kami pertama kali bertemu satu sama lain.

Meryem Şahin: Bagaimana respon keluarga anda tentang pekerjaan tersebut? Karena untuk melepas seorang anak perempuan ke daerah yang jauh dari kampung halamannya bukanlah hal yang mudah. Apakah anda menikah dengan restu dari mereka?

Misriani: Sebenarnya saya tidak menyampaikan semua hal tentang ini (pekerjaan). Karena awalnya kakek saya berpikir tempat ini sangat jauh. Tetapi, akhirnya saya mendapatkan persetujuan tentang apa yang saya inginkan.

Meryem Şahin: Sepertinya itu adalah sebuah keputusan yang berani, penuh pertimbangan. Karena anda sama sekali tidak mengetahui bahasa dan budaya tempat yang anda kunjungi.

Misriani: Sebenarnya suami saya pernah berujar kepada saya bahwa kami akan tinggal di Indonesia,  begitu ujarnya. Ia mengatakan akan menata dan mengurus bisnisnya di sana (Indonesia). Saya pun menyetujuinya. Akan tetapi dalam waktu selanjutnya, hal tersebut tidak terjadi. Sampai dengan 15 hari setelah itu, kami memutuskan untuk ke Istanbul. Kemudian kami berangkat menuju ke Rize di kota Çayeli.

Meryem Şahin: Bagaimana pertama kali anda tiba di Turki? Apa saja pengalaman yang anda rasakan?

Misriani: Di Istanbul, saya pertama kali melihat secara langsung salju. Rasanya sangat aneh. Butuh  waktu bagi saya untuk menyesuaikannya. Kami berada di Istanbul selama dua hari. Setelah itu kami menuju ke kota Ankara, tepatnya ke kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk pengurusan izin tinggal di Turki. Akan tetapi, pihak KBRI tidak bisa memberikan izin tinggal kepada saya karena usia saya yang masih muda. “and tidak akan bisa mendapatkan izinnya”, dan menyampaikan bahwa saya akan dikembalikan ke Indonesia. Namun, saya tidak menolaknya.

Meryem Şahin: Bagaimana perasaan anda saat tiba di Rize? Bagaimana respon orang-orang di sana? Apakah ada kabar tentang kedatangan anda di Çayeli?

Mirsiani: Setelah tiba di Istanbul, suami saya, Ismail, mencari rumah. Setelah itu rampung, baru kami berkabar. Hari pertama tiba di Rize, saya menikmati sarapan (kahvaltı) khas Turki yang telah disiapkan. Akan tetapi, di kampung halaman saya di Indonesia, untuk sarapan kami biasanya mengonsumsi nasi dan lauk lainnya. Saat sarapan, bahkan saya tidak mengambil satu pun makanan. Dan itu sangat aneh bagi beberapa orang yang ada pada saat itu. “Hey, Ismail. Ia membawa beberapa buah biji kacang”. Dan dalam situasi tersebut, saya sama sekali tidak paham apa yang sedang dibicarakan. Hari pertama ke rumah (di Çayeli), “pengantin—orang asing, telah datang, begitu ujar beberapa orang”. Jalanan di sekitar tempat tinggal sangat ramai oleh warga yang datang. Mereka sangat penasaran dengan saya. Hari itu rasanya sangat berat dan tersulit yang pernah saya alami.

Meryem Şahin: Apakah anda melangsungkan pesta pernikahan?

Mirsiani: Tidak. Hanya menikah saja. Pesta pernikahan diselenggarakan ketika kembali lagi ke Turki. Di Indonesia, kami tidak bisa menikah secara resmi karena ada peraturan yang mengharuskan memiliki kartu identitas sebagai warga negara saat usia 18 tahun.  Saya membawa ijazah SMA ke sini (Turki). Saya mendapatkan passport dengan ijazah dan selanjutnya menikah. Namun, kami harus menunggu sampai satu tahun untuk pernikahannya.

Meryem Şahin: Ketika anda telah menjadi pengantin, apakah anda tinggal bersama kerabat anda?

Mirsiani: Iya. Kami sudah tujuh tahun tinggal bersama. Di Indonesia, kami memiliki keluarga besar. Dan ketika saya ke sini, saya merasa sangat kesepian. Pada enam bulan pertama, saya tinggal bersama suami, Ismail. Selanjutnya selama 13 bulan setelahnya Ia bekerja di kapal. Saya tidak akan pernah melupakan hari-hari saat tak bersamanya. Saya merasa seperti seorang anak yatim.

Meryem Şahin: Kapan persisnya anda memperoleh kewarganegaraan Turki?

Mirsiani: Dua tahun setelah saya di Turki.

Meryem Şahin: Berapa orang anda sekarang?

Mirsiani: Saya memiliki empat orang anak. Tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Anak laki-laki tertua namanya Bilal, kuliah di Yıldız Tehnical University jurusan teknik perkapalan. Ali dan Ahmet masih SMA. Dan yang terakhir, Meryem, masih kelas lima sekolah dasar (SD).

Meryem Şahin: Anda memiliki budaya dan jenis makanan yang sangat berbeda dengan Turki. Apakah sulit untuk beradaptasi dan menyesuaikannya?

Mirsiani: Di Indonesia kami lebih sering memasak nasi dan sayur. Ketika pertama kali tiba di sini, saya hanya memasak nasi dan mengambil beberapa sayur yang ada di kebun. Kemudian mengolahnya menjadi sayuran untuk dimakan.

Meryem Şahin: Apakah anda tahu cara memasak?

Mirsiani: Tidak. Semuanya saya pelajari di sini.

Meryem Şahin: Makanan apa yang pertama kali anda buat?

Mirsiani: Saya pertama kali belajar memasak dengan suami. Saat itu, ia memasak ‘mimci muhalama’ (makanan khas Rize). Pada hari selanjutnya, saya mencoba untuk membuat Mimci Muhalama. Hasilnya tidak terlalu bagus, namun suami memuji dan menyukai masakan saya. Hal itu membuat saya sangat bersemangat untuk terus belajar memasak. Dan saya mendapatkan dukungan dari suami.

Meryem Şahin: Apa hal tersulit yang anda jumpai di Rize?

Mirsiani: Di Indonesia, kami bercocok tanam padi dan jagung. Dan ketika saya di Rize, saya paham bagaimana caranya mengumpulkan daun Teh, bercocok tanam di kebun ataupun beternak sapi. Saya telah belajar dan mendapatkan Rahmat, petunjuk dari Allah SWT. Dan perlahan saya menyukai kegiatan bekebun.

Meryem Şahin: Apa hal teraneh yang anda jumpai di Rize?

Misriani: Di sini saya pertama kali menjumpai minuman yogurt yang dicampur dengan jeruk (orange). Di Indonesia, kami hana memproduksi susu sapi. Sebenarnya Yogurt adalah minuman yang sama sekali tidak saya ketahui. Butuh waktu untuk menyesuaikannya. Di sini, saya menjumpai rumah kayu yang sangat berbeda dengan tempat tinggal saya di Indonesia. Biasanya, kami hanya membuatnya dari Bambu. Inı disebabkan cuaca panas yang ada di Indonesia. Di sini, saya juga melihat cara orang berbicara dengan suara yang tinggi (kencang), itu juga yang sulit bagi saya. Kami terbiasa berbicara dengan suara yang lembut, tidak kencang. Saya terkejut dengan situasi yang saya hadapi ketika semua orang di sini berbicara sambil berteriak.

Meryem Şahin: Apa kata pertama yang anda pelajari?

Mirsiani: Pertam kali, saya belalajar kata ‘Ben’ (Saya), dan ‘Sen’ (Kamu, anda). Saya berhasil menyesuaikan dan mempelajari dua kata ini.

Meryem Şahin: Kapan anda belajar berbicara dengan bahasa Turki?

Mirsiani: Saya merampungkannya selama satu tahun. Saya tidak akan pernah melupakan Emine.Ia telah banyak mengajari bahasa Turki kepada saya. Dan saya berhutang budi kepadanya.

Meryem Şahin: Apakah anda masih bisa berbahasa Indonesia?

Misriani: Saya bisa katakan, saya telah lupa dengan bahasa ibu saya. Lebih banyak campur aduk dengan kata-kata dalam bahasa Turki. Mungkin karena sudah lama tidak mempraktikannya, akhirnya lupa.

Meryem Şahin: Apakah anda masih berkomunikasi dengan kerabat anda?

Misriani: kakek saya telah wafat. Saya mengetahuinya lewat surat yang disampaikan oleh paman dan bibi. Saya tidak tahu dimana kedua orangtua saya. Karena sejak kecil, saya juga tidak mengetahui keberadaannya. Di sini, saya menjumpai seseorang yang bekerja sebagai perawat. Namanya Faridah. Dan kami berjumpa di desa Yomra yang terletak di kota Trabzon.

Meryem Şahin: Apakah anda pernah berkunjung ke Indonesia lagi?

Misriani: Tidak. Saya tidak memiliki waktu untuk ke sana.

Meryem Şahin: Apakah anda ingin ke sana?

Misriani: saya ingin sekali ke Indonesia. Tetapi sangat tidak mungkin. Saya sangat rindu untuk berjumpa lagi dengan paman dan bibi. Juga melihat kebun dan tempat kelahiran saya.

Meryem Şahin: Jika dalam sebuah pertandingan antara Turki dengan Indonesia. Manakah yang akan menang?

Misriani: Tentu saja, Indonesia.

Catatan: Misriani tidak berkenan fotonya dipublikasi.

[Didid/Redaksi TS]



Formula One akan Kembali Hadir di Turki

13.22.00 Add Comment

Agustus 2005 sebanyak 20 pembalap menjajal Sirkuit Intercity Istanbul Park

[Lintasan Formula One di Istanbul. Foto: https://tr.pinterest.com/pin/6333255698221005/]
Pada Selasa (10/4) Pemerintah Turki melalui Presiden Recep Tayyip Erdoğan telah melakukan pertemuan dengan direktur utama Formula One, Chase Carey di Ankara. Dalam acara yang berlangsung di Istana Kepresidenan, Ankara tersebut turut hadir juga Menteri Olahraga Turki Akif Çağtay Kılıç dan Ali Vural Ak sebagai direktur sirkuit Istanbul Park pada tahun 2005-2011.

Menurut beberapa informasi yang dihimpun oleh media di Turki, dalam pertemuan tersebut belum ada penandatanganan kesepakatan. Akan tetapi, semua hal telah siap dan hanya menunggu waktu untuk melakukannya.

“Kami telah melakukan pembicaraan. Hanya menunggu kesepakatan dan penandatangan. Turki akan segera kembali menjadi tuan rumah untuk Formula One di Istanbul,” ujar Ali Vural Ak.

Tahun sebelumnya Turki pernah menjadi tuan rumah ajang bergengsi Formula One. Pada 21 Agustus 2005 sebanyak 20 pembalap menjajal Sirkuit Intercity Istanbul Park yang berlokasi 30 mil dari pusat kota. Lokasi sirkuit ini berada di sisi Asia Kota Istanbul. Kurang lebih sepuluh ribu penonton memadati momen bersejarah tersebut untuk menyaksikan secara langsung aksi pembalap kelas dunia seperti Kimmi Raikkonen yang saat itu bergabung dengan tim McLaren’s. Pada saat itu hadir juga adalah petinju legendaries Mike Tyson sebagai tamu di tribun penonton.

Namun sejak 2012, Formula One tidak mencantumkan negara Turki dalam jadwal kalender kejuaraannya. Setelah pembicaraan ulang antara kedua belah pihak di atas, pecinta Formula One bisa berharap hadirnya kompetisi tersebut di Istanbul dalam waktu mendatang (didit/ts).
  

Sumber: Dailysabah

Mustafa Kara, Profesor Tanpa Mobil dan Telefon Genggam

15.40.00 Add Comment

Karena tak punya ponsel, tak jarang, saat tak sedang di ruangan, para mahasiswanya menaruh memo di meja kantor

Seringkali Mustafa Hoca (baca: Hoja) ditanya, “Kapan Anda akan membeli mobil dan ponsel, Hocam?” “Nanti, saat model yang paling mutakhir muncul,” jawabnya.

Dia adalah Prof. Dr. Mustafa Kara, guru besar ilmu tasawuf di Fakultas Ilahiyat, Uludağ University. Ruangannya ada di pojok lantai dua, terhalang tembok di bagian kiri pintu. Para guru besar rata-rata menempati ruangan bagian pojok bangunan lama fakultas, yang menjadi pemisah langsung gedung baru yang sejatinya telah menempel. Sebagai seorang profesor yang sebentar lagi akan bergelar Emeritus (a.k.a pensiun), kesehariannya ke kampus dilalui bersama bus umum. Kadang juga Metro Bursaray, transportasi kereta idola warga Bursa.

Tak jarang, para mahasiswa yang kurang percaya dengan keseharian Mustafa Hoca lantas bertanya. “Aku seringkali menjawabnya dengan kalimat yang sama,” kata Mustafa Hoca. “Kain kafan pun tak ada sakunya,” jawabnya.

Sebenarnya bukan perkara telefon atau mobil. Menurutku, masalah intinya adalah tentang pemborosan. Pemborosan menjadi sebuah rutinitas, hingga kita lupa dan tenggelam di dalamnya. Kini, seiring dengan populernya gaya hidup kapitalis, segala urusan dipandang berdasarkan sisi materi serta nilai kemewahannya. Kita akhirnya juga terbawa ke dalam tren tersebut. Lantas, kita jadi tak perduli dengan segala apa yang telah dibelanjakan. Ini masalah utamanya. Namun, rasanya tak mungkin juga lantas kita mencoba rutinitas baru tanpa alat-alat tersebut, karena alat-alat itu telah menyatu dengan segala elemen kebutuhan kita, tanpa disadari,” terang salah satu pendiri fakultas ini panjang lebar.

Anak-istriku juga pengguna ponsel. Aku juga yang memberi mereka uang untuk membeli alat-alat itu. Jadi, menurutku susah seratus persen untuk lepas dari rutinitas yang telah kita jalani bersama alat-alat tersebut.

Fenomena pemborosan yang tak teracuhkan baginya menjadi salah satu penyebab pembiasaan pada sikap tak peduli dan tak peka. Tiap menit ratusan anak meninggal karena kelaparan, di tempat lain ratusan manusia sedang antri membeli ponsel keluaran terbaru.

Kepada kawan-kawannya yang sering sangsi, sembari menyindir Mustafa Hoca berucap, "Akhirnya aku akan membeli mobil dan ponsel juga, seperti yang kubilang tadi, nanti saat model yang paling mutakhir telah keluar. Oh, pastinya aku juga akan membuat kartu kredit untuk membayar barang-barang itu. Sayangnya, hingga kini aku belum punya apa yang namanya kartu kredit itu. Menyentuhnya pun aku tak mau. Jelas, kartu kredit menjadi semacam tulang belakang bagi sikap pemborosan. Akan sampai manakah, kartu kredit yang menentukan.

Hampir tiap hari Mustafa Hoca selalu keluar rumah. Selain ke kampus, beliau juga rutin mengisi acara-acara pemerintah maupun swasta, kecuali pada bulan Ramadhan. Saya sebagai penghuni Bursa, tak jarang melihat pamflet seminar, simposium, ataupun pengajian yang tertempel di metro dan dinding pengumuman di kampus. Pengajian akbar Ramadhan yang diadakan kawan-kawan Indonesia di Bursa, juga diisi olehnya.

"Biasanya aku tak mau mengisi acara saat Ramadan. Namun tak apalah sekarang, untuk kalian," katanya saat kami ke kantornya. Karena tak punya ponsel, tak jarang, saat tak sedang di ruangan, para mahasiswanya menaruh memo di meja kantor.

"Sebenarnya, dengan apa yang kujalani saat ini, aku ingin menyampaikan sedikit pesan. Hidup tanpa mobil ternyata enak. Tanpa ponsel juga. Tak perlu bingung dengan alat di tangan, beban juga semakin ringan. Sebenarnya tanpa komputer pun, Anda akan lebih bahagia. Hidup, jalan terus, datang dan berlalu.

Yah pastinya, bagi seorang yang telah lebih dari 30 tahun menggunakan mobil akan susah memahami tingkahku. Hocam, lantas bagaimana Anda tiap hari pergi ke kampus? Anda juga sering diundang mengisi seminar, kan?tanya rekan dosenku. Jawabku mudah saja. Bis pemerintah tiap hari ada, siap sedia hingga larut, ke semua jurusan. Anak-istriku pun telah terbiasa denganku yang tanpa ponsel. Sebenarnya semua ini tak susah buatku. Dulunya juga tak ada ponsel, mobil juga tak punya. Aku pergi ke Istanbul, lantas seminggu setelahnya suratku sampai ke keluarga di Bursa. Sama saja, yang beda hanya cepat-lambatnya," kisah dosen kelahiran 1951 ini.

Beberapa dosen senior di kampus memang tak terlalu mengandalkan komputer di atas meja mereka. Prof. Zeki Özcan malah bilang dia tak pernah sekalipun mengetik abstrak simposium, tak perduli dengan simposium yang baginya sering dijadikan ajang promosi jabatan. Süleyman Hoca juga lebih nyaman dengan komputer jadulnya yang masih menggunakan keyboard non-qwerty. Bagi Mustafa Hoca, komputer hanya memenuhi ruangannya yang penuh dengan buku. Di atas meja tak nampak perangkat tersebut, saat saya kesana.

"Aku tak pernah menulis di komputer," katanya suatu saat.

Mustafa Hoca tak sepenuhnya yakin dengan komputer yang katanya mempermudah segala urusan, akademik maupun non-akademik. Menurutnya, semakin meningkatnya keterkaitan akademisi dengan sebuah komputer (juga internet), semakin pula kualitas penelitiannya dipertanyakan.

Saat ada email masuk untuknya, asistennya yang memberitahu isinya. Sebuah pensil dan penghapus selalu ada di saku. Mustafa Hoca juga merupakan penulis yang sangat produktif. Menulis apapun, beliau masih setia menggunakan pensil, terkadang juga mesin ketik di kantor masih sering dipakainya. "Acap kali, beberapa kawan mengetik kembali apa yang kutulis. Sudah jadi kebiasaanku menulis di kertas."

Karena tak menggunakan internet sebagai media bertukar kabar, Mustafa Hoca masih sering berkirim surat dengan kawan-kawannya. "Yang terakhir, datang padaku surat dari Italia. Sebuah surat yang sangat berharga. Surat dari seorang kawan lama di sana. Sayangnya kini, rutinitas surat menyurat telah dirampas dari mayoritas kehidupan kita. Manusia modern lebih memilih internet dan ponsel sebagai barang berharga. Mereka tak dapat lagi merasakan kebahagiaan menyimpan surat dari seorang kawan, sebuah kertas dengan tulisan tangan. Kini semua telah tercukupi dengan sebuah ponsel," pungkas pengoleksi majalah mancanegara ini.

Jam tangan pun beliau tak memakainya. Pernah, kami sangat khawatir beliau lupa undangan yang kami sampaikan. Acara kami telah dimulai sejak pukul 1 siang, jadwal beliau ceramah pukul 4 sore. Hingga pukul tiga, tak nampak tanda kehadirannya. Hingga akhirnya pukul 4 kurang sepuluh, beliau muncul dari bis yang berhenti tepat di depan tempat acara. Maghrib setelah buka bersama, dengan cepat beliau pamit menuju stasiun kereta, tak berkenan kami antar sampai rumahnya.

Diterjemahkan dari sini oleh M Mu'afi Himam dengan tambahan seperlunya.


M Mu'afi Himam
Penulis adalah penerima beasiswa YTB. Mahasiswa master pada program studi Sejarah Agama-Agama, Uludağ Üniversitesi, pengampu weblog www.masmuafi.com.

Ejder Akan Tetap Hidup...

01.18.00 Add Comment

Jangan biarkan anak kita mati, aku tak punya kekuatan untuk bertahan

[Bersama Anak-Anaknya. Foto +aljezeera]
Abdulwahab Özkan dan Emine Özkan adalah pasangan suami istri asal Diyarbakır yang telah kehilangan tujuh anaknya sejak 1986. Karena para dokter tidak berhasil mendiagnosa penyakit penyebab kematian anak-anaknya, tetangga-tetangganya menyebut kematian mereka karena kutukan ataupun gangguan jin. “Aku tak ingin kehilangan anakku yang kedelapan, kata Abdulwahab Özkan. Kemudian ia membawa anaknya ke Istanbul. Ejder yang didiagnosa memiliki kerusakan ritme genetik menjalani operasi. Ayah Özkan, mengabarkan berita gembira kepada istrinya di Diyarbakır melalui telepon. Ejder akan tetap hidup….

Abdulwahab dan Emine Özkan merupakan pasangan yang menikah tahun 1985. Anak mereka yang pertama lahir pada 1986. Mereka memberi nama Suvar untuk anak pertamanya. Ketika menginjak umur 6 tahun, Suvar mulai mengalami gejala-gejala tak normal—mudah pingsan. Ayah Özkan kemudian menceritakan kejadian saat itu.

“Anakku setelah menginjak usia keenam mulai mudah pingsan. Sedikit saja dia lelah atau lari, langsung lemas. Kami membawanya ke dokter. Ketika kami sedang menunggu kabar mengenai penyakit apa yang diderita Suvar, Semoga amalnya diterima di sisi-Nya, tabahkan hati Anda, kata dokter yang keluar dari ruangan. Kematian tiba-tiba, kata mereka. Kami ambil jasad anak kami da kembali ke desa. Takdir, kataku.

Kutukan

Ada yang bilang kejadian yang telah menimpa anak-anak pasangan Özkan adalah kutukan atau pun karena ulah jin. Mereka mencoba membawa anak-anak mereka yang lain ke orang pintar namun kesedihan mereka tetap berlanjut. Ibu Emine selain sedang bersedih karena kehilangan anaknya juga mencoba sekuat tenaga menjaga anak-anaknya yang lain.

Anak yang baik, pasti dia kena kutukan atau dia telah diganggu jin,’ kata orang-orang yang datang bertakziah setelah pemakaman anak kami. Ucapan mereka membuatku dirundung rasa takut. Aku tak mengizinkan mereka pergi sebelum membaca surat Alfalaq, Annas dan ayat kursi. Aku berusaha melindungi mereka. Namun aku tak bisa apa-apa.”
Mereka selalu pulang membawa jasad tak bernyawa anak-anaknya.
Enam Anak Mereka Meninggal Kemudian

Setelah meninggalnya Suvar pada tahun 1986, keluarga Özkan telah kehilangan enam anak mereka sampai dengan tahun 2009: Cemile (6 tahun), Sara (9 bulan), Mehmet Şirin(8 bulan), Recai(7 bulan), Remzi (5,5) dan Ahmet (6 tahun). Mereka meninggal setelah mengalami keluhan yang sama. Dari para dokter, mereka tak mendengar kata selain “kami sudah berusaha semampu kami”, “penyebab kematian tidak jelas”. Mereka selalu pulang membawa jasad tak bernyawa anak-anaknya.

Jangan Biarkan Ejder Mati

Anak ke delapan keluarga Özkan sedang sakit. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. “Jangan biarkan anak kita mati, aku tak punya kekuatan untuk bertahan,” kata Emine Özkan. Menindaklanjuti keinginan istrinya itu, Abdulwahab Özkan membawa Ejder ke dokter dan menceritakan kondisi anaknya secara rinci.

Mereka membawa Ejder dari sekolah, menurut mereka Ejder jatuh pingsan. Aku dan istriku saling tatap. Ia memegang lenganku, jangan biarkan Ejder mati, kata dia. Aku tak berdaya, ketika aku membawanya ke dokter aku berpikir akan membawa jasadnya tanpa nyawa pulang. Hal itu terjadi pada tujuh anakku. Aku pergi ke dokter. Pak dokter tolong saya, tujuh anak saya telah meninggal, selamatkan anakku ini. Mendengar hal itu dokter gugup. Ia mengambil grafik jantungnya dan mendengarkan ritmenya. Masalah ini harus ditangani para ahli, bawalah dia ke Ankara atau Istanbul,’ perintahnya. Aku mencari tahu dan mengetahui bahwa di rumah sakit Universitas Medipol Istanbul ada dokter ahli tentang ini. Setelah aku meminjam uang dari kerabat dan tetangga aku pergi ke Istanbul.

Ejder Menjalani Operasi

Para dokter yang memeriksa ritme detak jantung Ejder menemukan kelainan yang disebut Cpvt pada jantung Ejder. Cpvt merupakan kelainan ritme detak jantung yang bisa menyebabkan kematian. Seketika itu Ejder menjalani operasi. Abdulwahab kemudian menelepon istrinya.”Ejder tak akan mati,” ujarnya.

“Para dokter seketika mengoperasi Ejder. Mereka bersedih mengetahui aku telah kehilangan tujuh anakku. Mereka sangat memudahkanku. Aku anggota yeşil kart. Aku tak memiliki asuransi kesehatan satu pun. Ia menginap di rumah sakit selama 10 hari. Kemudian mereka mengizinkan pulang. Kami mengambil obat dan pulang. Sekarang ia sedang menggunakan obat. Ia juga dalam pengawasan dokter. Mereka mengatakan ini merupakan penyakit genetik. Sekarang kami memiliki lima anak, ketika pergi ke dokter kami mengatakan ada penyakit genetik dan menginginkan pencegahannya. Alhamdulillah kondisi mereka baik. Tujuh anak kami bisa saja tidak mati, namun dokter saja tak tahu penyebab kematian mereka, bagaimana bisa aku mengetahui penyebab kematiannya. Kami hanya bisa sebut ini sebagai takdir. Allah menghadiahkan Ejder untuk kami.

Kerusakan Ritme Detak Jantung adalah Urusan Para Ahli

Menurut Prof. Dr. Volkan Tuzcu Direktur Klinik Fisiologi Anak Rumah Sakit Universitas Medipol Istanbul, kerusakan ritme detak jantung adalah kasus yang perlu ditangani oleh para ahli dan Turki sangat kekurangan ahli dalam bidang ini.

“Cpvt adalah kerusakan ritme detak jantung yang bisa menyebabkan kematian mendadak. Ejder jatuh pingsan ketika kaget atau takut. Kami melakukan tes efor dan melakukan diagnosa. Terjadi operasi pemotongan saraf sempatik. Perawatan obat dimulai. Kami kembali melakukan tes efor dan kerusakan detak jantung yang berbahaya telah sirna, sekarang dalam pengawasan kami.

Penyebab Kematian Anak-anak tidak Diketahui

Prof. Dr. Volkan Tuzcu juga mengomentari para dokter yang mengatakan tidak tahu penyebab kematian anak-anak Özkan. “Walaupun dilakukan otopsi belum tentu penyebab kematian bisa diketahui.”

Diterjemahkan darai Aljazeera Turk, penulis Abdülkadir Konuksever oleh Hari Pebriantok.


Hari Pebriantok
Salah satu pendiri Turkish Spirit. Hari berasal dari Sragen, Jawa Tengah dan alumni jurusan Jurnalistik Selcuk University, Konya Turki. Menjadi penerjemah profesional Turki-Indonesia dan sebaliknya. Untuk korespondensi bisa dikontak via aku-akun media sosial di sini. Hari menyukai tulisan reportase, travel note dan sekaligus fotografi.

Pesona Indonesia bagi Bennu Gerede

01.34.00 Add Comment

Saya yakin (Bali) akan menambahkan petualangan dalam hidup anak-anak saya dan hidup kami juga

[Foto agoda.com]
Tak ada kata terlambat dan tidak mungkin! Mimpi semua orang dapat terwujud, termasuk Bennu Gerede. Kakek buyutnya adalah ajudan Hüsrev Gerede, ibunya sineas senior Turki Canan Gerede, dan ayahnya Selçuk Gerede adalah kepala dokter di New York. Sementara Bennu Gerede adalah pekerja seni fotografi keturunan Turki dengan 4 anak, yang musim panas tahun 2016 membuat keputusan tiba-tiba dalam waktu 10 hari untuk pindah ke Bali dengan keempat anaknya.

Berikut adalah petikan wawancara yang diterjemahkan oleh tim Redaksi Turkish Spirit, Azahra Nurhabiba dari bahasa Turki.

Bagaimana hari-hari pertama Anda di sebuah negara asing yang tidak Anda kenal. Apakah Anda menyesal? Bagaimana Anda menyesuaikan diri?

Bali, sejak pertama kali saya menginjakkan kaki, seperti langsung menerima dan memelukku. Saya tidak menemukan keanehan dan keganjilan apapun. Ini seperti saya sudah lama menghabiskan hidup di sini. Orang tidak pernah melihat saya sebagai turis. Saya langsung beradaptasi. Sebelum pindah ke Bali, saya dan ibu saya datang untuk melakukan observasi. Kami langsung jatuh cinta dan kami berkata, “Saya yakin (Bali) akan menambahkan petualangan dalam hidup anak-anak saya dan hidup kami juga”. Di Turki, kami seperti di dalam roda, seperti jalan buntu, di lingkaran setan. Keadaan yang monoton seperti itu harus diubah. Di sekolah yang sekarang murid-muridnya lebih sedikit, guru-gurunya peduli dengan anak-anak. Untuk saya, ini semua adalah kemewahan. Mereka bisa pergi ke sekolah dengan motor, setiap hari mereka melewati alam tropis. Setiap pemandangan di jalan menceritakan kisah hidup. Kenangan dan pemandangan seperti ini yang akan terus teringat sepanjang hidup.

Apakah ini kehidupan kedua Anda? Bagaimana Anda mendeskripsikannya?

Mungking bisa jadi yang ketiga. Sebelum anak-anak lahir, kehidupan saya banyak di New York. Setelah anak-anak lahir, saya di Istanbul dan lalu kini di Bali, sebagai kehidupan kami yang ketiga dan baru! Kehidupan saya dengan mereka setiap detiknya sangat berharga dan sibuk sekali! Di sini saya menjadi lebih dekat dengan anak-anak saya, kami mulai mengenal satu sama lain dengan cara yang berbeda.

Bagaimana keadaan geografis di sana?

Di sini hujan, tetapi tiba-tiba matahari bisa muncul. Iklimnya bisa dibilang setiap saat panas, misalnya sekarang musim dingin (di Turki) tetapi di Bali 27 derajat, terkadang juga bisa berangin, tapi orang tidak akan kedinginan. Tanaman herbal dan alam tropis sangat kaya. Buah-buahannya sangat luar biasa dan tentu saja yang paling menarik adalah murahnya. Orang-orangnya luar biasa, murah senyum, senang membantu, dan sangat simpel. Jika Anda ingin hidup yang hedonis, di sini adalah surganya.
[Bennu Gerede. Foto +Hurriyet.com.tr]
Apakah masyarakat ramah di sana? Apakah mereka mempunyai empati tinggi? Misalnya apa ada pembedaan (ras, dll)?

Di sini, masyarakat lokalnya sekitar 80% Hindu, 13% Muslim dan sisnya Budha dan Kristen. Selama yang saya lihat semua orang hidup harmonis. Di kemacetan pun mustahil mendengar suara klakson, kehidupannya sangat selaras di antara masyarakat. Tensi politik sangat rendah dan bangsanya cukup bahagia, cinta dan ketenangan tampak di mata mereka. Jika di dalam manusia ada kedamaian dan cinta, empati dan hormat secara alami akan menjadi tinggi. Salah satu alasan saya untuk tinggal di sini adalah (masyarakat) menghormati kehidupan pribadi masing-masing individu dan tidak adanya konsep prasangka.

Apakah Anda ada pesan dari sana untuk Turki?

Untuk semua hal, tidak ada kata terlambat dan tidak mungkin! Semua orang bisa mewujudkan mimpinya.

Diterjemahkan dari Hurriyet


Azahra Nurhabiba
Tim redaksi Turkish Spirit, mahasiswi International Trade and Management di Bulent Ecevit Universitesi, Zonguldak, kota kecil di tepi Laut Hitam. Mahasiswa yang jarang belajar dan mengisi kebanyakan waktunya dengan dengan membaca, menulis, dan bermain gitar. Berasal dari kota kecil di Jawa Timur, Kediri. Instagram @azahrarona.