Museum of Innocence, Ekspedisi Kepolosan!

01.26.00

"Hal unik lain dari proyek Museum Kepolosan ini adalah upaya menghidupkan fiksi secara masif, di Istanbul sebagai lokusnya" 

[Buku Kepolosan Kenangan Edisi Bahasa Turki. Foto +Bernando J. Sujibto]
Jumat 25 Maret 2016, bersamaan dengan penayangan serentak film Hatıraların Masumiyeti (Kepolosan Kenangan) di kota-kota besar Turki, buku dengan judul yang sama berisikan skenario, esai-esai pendek hal-ihwal Museum Kepolosan (The Museum of Innocence/Masumiyet Müzesi) dan obrolan Orhan Pamuk dengan sutradara Grant Gee hadir juga ke hadapan pembaca. Skenario yang ditulis sendiri oleh tangan dingin Pamuk ini menghadirkan kejutan dan kebaruan dengan perspektif yang unik.

Museum Kepolosan yang awalnya adalah karya novel (terbit 2008), lalu ditransformasikan ke dalam bentuk museum (dibuka 2012) dan kali ini diadaptasi ke film adalah pencapaian kreativitas yang luar biasa. Betul, sudah banyak karya novel hebat dunia difilmkan, tapi Museum Kepolosan mempunyai “arena operasinal” sendiri yang dieskplorasi secara distingtif, khususnya dalam aspek kreativitas seni dan sastra. Kehadiran buku dan film ini semakin menyempurnakan semesta Museum Kepolosan itu sendiri dengan sentuhan-sentuhan segar, sebagai produk imajiner dalam bentuk roman yang kemudian terdedah ke dalam konstruksi fiksi-yang-terlihat (baca: museum).

“Arena operasinal” Pamuk yang saya maksud adalah proses menghidupkan kota Istanbul. Pamuk tengah "berproyeksi" menasbihkan Istanbuller (Istanbullu) dalam dirinya, seperti Dubliner bagi James Joyce. Meski bukan Pamuk seorang yang menulis Istanbul, tak bisa dipungkiri bahwa hari ini Pamuk adalah si Istanbullu itu sendiri, seorang yang meniupkan nafas kepada kotanya. Atau sebaliknya, sebuah kota yang setia melumuri intuisi dan imajinasi kepada dirinya (hal 79).

Jika boleh bertaruh ihwal karya novel yang akan dikenang di masa depan—atau bahkan sepanjang sejarah—saya tak ragu untuk menyebutkan Museum Kepolosan. Alasannya karena novel ini sudah bertransformasi ke dalam bentuk-bentuk karya seni yang lain. Misalnya, Januari kemarin sebagian koleksi museum dibawa ke Somerset House London untuk dipamerkan. Sebelumnya buku Şeylerin Masumiyeti (Kepolosan Objek-Objek, 2012) terbit sebagai bentuk katalog. Lagi-lagi, buku katalog ini disentuh dengan teks-teks magis Pamuk sendiri yang semakin melengkapi bangunan fiksi novel Museum Kepolosan

Alasan mendasar dan paling prinsipil (di balik "keabadian" sebuah karya sastra) adalah karena novel ini telah menjadi ruh bagi sebuah kota, yaitu Istanbul dalam perspektif dan paradigma yang dibangun Pamuk sendiri sebagai personal. Alasan terakhir ini cukup menonjol bagi proses penyatuan karya dengan latar sosial dan sejarahnya. 

Secara general, proyek Museum Kepolosan adalah sebentuk upaya menghidupkan fiksi secara masif, di Istanbul sebagai lokusnya. Kemudian aspek lain yang menarik dan sulit ditolak di balik kerja kreatif ini adalah bahwa fiksi-yang-terlihat (yaitu koleksi-koleksi museum yang dikumpulkan berdasarkan narasi dalam novel) itu hadir dengan sebuah tesis: dunia fiksi dan non-fiksi sebenarnya adalah mitos yang dikonstruksi untuk ada, keduanya sama-sama memperkuat. Atau, dalam beberapa aspek, mungkin saja saling menegasikan!

Sebagai karya yang bersumbu dari satu pusat yaitu novel, ketiganya sangat identik. Membicarakan satu artinya harus siap bergulat dengan keempat karya seni (novel, museum, buku katalog dan film) tersebut. Namun, buku skenario film ini mempunyai cara pandang berbeda dalam mendekati semesta Museum Kepolosan. Pamuk menambahkan tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak muncul dominan dalam novel--tetapi dalam buku ini, dalam film ini, diberikan ruang untuk hadir--sebagai karakter yang mewarnai dan melengkapi cerita, misalnya Ayla, Ara Güler, Tukang Kertas, Türkan Şoray, Kenan Evren, dsb. Pamuk juga menghidupkan karakter-karakter dialog yang—bagi saya—‘asal ingat’ atau memang sebentuk twist untuk mengganggu ingatan pembaca kepada beberapa dialog dalam novel (hal 45). Nilai plus dari buku skenario ini adalah esai-esai pendek tentang semesta Museum Kepolosan sehingga makin utuh dan mendalam.
[Versi Cetak Dimuat di +Jawa Pos. Foto +Ahmad Muhli Junaidi]
Di samping Kemal, Ayla adalah tokoh utama dalam film ini. Ayla diplot menjadi teman dekat Füsun yang pernah tinggal satu apartemen (daire). Daire mereka sederhana, ditempati oleh keluarga dari kalangan menengah ke bawah. Bersama ibunya yang seorang janda, Ayla menyewa rumah di lantai bawah apartemen yang ditempati Füsun dan keluarganya, apartemen kecil yang kini disulap menjadi museum. Sebagai teman dekat satu apartemen, Ayla sangat paham Füsun, karena dari tahun 1970-1980 Füsun dan Ayla kerap main bersama (hal 15). Artinya, waktu narasi dalam novel yang berlatar tahun 1974 terjadi, Füsun dan Ayla tengah asyik bermain sebagai seorang gadis yang baru lulus dari SMA. Bahkan dalam dialog perdana, Ayla menuturkan bahwa baju yang dipakai Füsun dan kini menjadi koleksi museum dibeli di toko murah oleh mereka berdua (hal 13).

Pamuk menghadirkan Ayla untuk menggantikan Füsun bukan tanpa alasan. Dan bagi saya, itu justru pilihan luar biasa yang mengejutkan karena tidak semua orang berpikir ke sana, ketika tokoh utama dihilangkan dan diganti oleh temannya yang dalam novel perannya sama sekali tidak dominan (nama Ayla dalam novel hanya disebutkan sebanyak lima kali, di halaman 302, 373, 538 dan 539). Tanpa diragukan, cara demikian adalah sentuhan jenius Pamuk agar Füsun yang lugu dan lemah (dalam novel menjadi objek dan represi kegilaan cinta Kemal dari kelas borjuis) terbatas menceritakan dirinya. Pembaca tentu paham bahwa novel ini adalah cerita cinta tunggal tentang Kemal dan kegilaan-kegilaanya, Füsun hadir dalam definisi dan perspektif Kemal. Untuk itu, Pamuk tak tega membiarkan Füsun menjadi objek derita yang pelik untuk kedua kalinya. Karena yang diinginkan Pamuk dengan novel ini sebenarnya bukan aspek eksploitasi (kelas, seks dan kapital), tetapi demi menghadirkan lini sejarah kelam yang pernah menghiasi Istanbul dan Turki.

Kejutan lain adalah ketika Ayla dengan gamblang bertutur bahwa dirinya tahu ketika Pamuk akan menulis kisah cinta antara Kemal dan Füsun. Karena ketika tengah menulis novel, Pamuk pernah bercerita kepada Ayla (hal 15).

Kehadiran tokoh dan karakter yang dalam novel hanya disebutkan nama (untuk menghadirkan realisme sejarah Turki) atau bahkan yang tak pernah ada merupakan catatan kaki untuk melengkapi lanskap cerita dan panorama Istanbul secara lebih luas. Hadirnya Kenan Evren misalnya, komandan kudeta militer paling beringas tahun 1980, melengkapi intrik dan intimidasi politik yang menanamkan kecemasan dalam memori bangsa Turki (hal 46-47). Dipungkasi oleh karakter Ara Güler, fotografer nomor satu Turki yang dijuluki the eye of Istanbul itu.
[Masumiyet Müzesi Trailer. Foto +YouTube]
Karakter aktris tersohor tahun 1970-an Türkan Şoray (hal 42-43) semakin memperkuat karakter Füsun dalam novel. Füsun bermimpi menjadi aktris dan pernah mengikuti kontes model kecantikan tapi gagal. Pamuk cukup lengkap mengeksplorasi dunia perfilman Turki era 70-80-an untuk menghidupkan karakter Füsun yang ingin berkecimpung dalam dunia film. Bahkan Füsun pernah dilirik seorang sutradara untuk mengambil peran dalam sebuah film (novel Museum Kepolosan bab 52-62).

Di samping itu, karakter Sopir Taksi, Tukang Kertas dan Reporter semakin melengkapi semesta Museum Kepolosan. Tentu, sebagai film yang digarap secara unik (semacam donumenter atas karya fiksi) Pamuk menjadi komando dalam menarasikan film, narator untuk menjelaskan Museum Kepolosan. Padahal dalam novel sendiri, Pamuk berposisi sama –sering mencampuri karakter Kemal yang dia ciptakan sendiri. Seperti terjadi dalam karya yang lain, Pamuk lihai memainkan peran alter ego yang bahkan mengaburkan cerita antara dirinya dengan tokoh-tokohnya.

Terakhir, sebagai ending tercanggih adalah ketika antara Pamuk dan Kemal kembali terjadi dialog: “Dalam novel kalimat terakhirku jangan lupa, Tuan Orhan,” pesan Kemal. “Unutmam (aku tidak lupa),” jawab Pamuk (hal 55). Dialog ini mengingatkan saya pada bagian akhir novel (bab 83 halaman 531-2) ketika Kemal menyerahkan tugas narator kepada Orhan Pamuk, dan novel setebal 561 halaman tersebut pada akhirnya berubah menjadi ‘suara’ Pamuk seutuhnya (!).


Bernando J. Sujibto
Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Sedang merampungkan riset tesis tentang karya Orhan Pamuk. Follow Twitter @_bje.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »