Solidaritas pada Secangkir Teh Turki

22.05.00

 "Muara dari proses keakraban yang terajut pada secangkir teh akan menciptakan solidaritas yang unik dan kuat"

[Teh Gratis Silahkan Dinikmati: Pesan pada Gambar. Foto @Didit Haryadi]
Masyarakat Turki sangat akrab dengan minuman çay, yang dalam Bahasa berarti teh. Di setiap sudut-sudut jalan, çayevi (warung teh), cafe, ataupun restauran sangat mudah dijumpai jenis minuman yang satu ini. Bagi Anda yang terbiasa untuk minum kopi, sepertinya kopi bisa dibilang minuman nomor dua di negeri Sang Penakluk ini.

Berikut adalah kutipan menarik dari salah satu artikel dalam situs www.theistanbulinsider.com, sebuah situs yang mengupas tuntas İstanbul dan orang-orangnya, menempatkan teh sebagai minuman yang paling digemari:

The most widespread drink in Istanbul is tea (çay), served in small, tulip-shaped glasses. Turks consume it during breakfast, and continue drinking it throughout the day. They’ll offer it to you in shops and bazaars, and even in banks and offices. What about their famous Turkish coffee (Türk kahvesi) then? Locals usually drink it mid-morning and to finish off a meal.

Teh, dalam artikel di atas,  jelas sekali mendapatkan posisi yang sangat istimewa dalam keseharian masyarakat Turki. Mereka mulai mengkonsumsinya saat sarapan dan mengiringi aktivitas mereka sepanjang harinya. Pasar, di sepanjang jalan kota, bazar, perkantoran dan tempat umum lainnya adalah lokasi yang cukup akrab untuk melihat orang-orang minum teh.

Sebagai catatan penting jika Anda datang ke Turki, jangan merasa kaget jika teh yang dihidangkan mempunyai ukuran gelas kecil. Umumnya mereka memiliki gelas khas untuk minum teh. Untuk menyajikan çay, secara umum prosesnya menggunakan wadah khusus, misalnya mesin yang terhubung dengan sumber listrik sebagai pemanas air dan teh. Cara ini lebih modern dan sangat banyak dijumpai di mana-mana. Ada juga cara lain yaitu dengan menggunakan tungku api di mana di atasnya dipasang wadah yang disebut çay demlik (panci teh khas Turki).

Begitupun dengan kopi. Mereka mempunyai kultur khusus dalam menyeduh kopi dan menyediakan gelas khusus demi menikmati setiap tegukan kafeinnya. Tentunya dengan cara penyajian yang juga berbeda. Misalnya, khusus untuk penyajian Kopi Turki (Türk Kahvesi) adalah dengan cara memanaskan air dan kopi dalam satu wadah khusus di atas bongkahan bara sambil diaduk-aduk dengan perlahan hingga aroma kopi menyeruak.

Satu hal yang sangat menarik dari tradisi minum teh di Turki bersama arkadaş (sejawat) dan hoca (guru) adalah hadirnya keakraban satu sama lain. Tak jarang, keakraban ini dapat muncul juga secara spontan.

Karena orang Turki dikenal sangat meraklı, memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi terhadap sesuatu dan hal-hal baru, maka jangan heran jika Anda berkunjung ke Turki kemudian menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sangat personal, mulai dari arti nama Anda, usia, keluarga, pekerjaan bapak, ibu, adik, kakak, dan lain sebagainya. Ini semua menunjukkan bahwa cara mereka berkenalan dan berkawan dengan orang lain sangatlah khas dan unik. Tapi bagi sebagian masyarakat dengan kultur yang berbeda cara-cara seperti ini pasti menjengkelkan dan mengancam privasi mereka.

Yang perlu dicatat adalah muara dari proses keakraban yang terajut pada secangkir teh akan menciptakan solidaritas yang unik dan kuat. 

Emile Durkheim, salah satu pemikir yang sangat berpengaruh dalam sosiologi, berbicara tentang solidaritas dan tipe struktur sosial. Secara sederhana, istilah solidaritas menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Ikatan ini lebih mendasar daripada hubungan kontraktual yang dibuat atas persetujuan rasional, karena hubungan serupa itu mengandaikan sekurang-kurangnya satu tingkat/derajat konsensus terhadap prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar kontrak.

Suasana solidaritas yang dijelaskan oleh Durkheim dapat dijumpai dalam tradisi minum teh masyarakat Turki. Di sana bisa dijumpai banyak sekali obrolan-obrolan sederhana, topik-topik bebas dan dibumbui dengan gelak tawa. Semuanya mengalir dengan sangat spontan, natural dan tidak memerlukan persetujuan kontraktual, seperti yang banyak dijelaskan oleh sosiolog seperti Spencer dan Rousseau misalnya. Namun tidak jarang juga ada topik-topik serius, tergantung konteks dan lawan bicara yang diajak mengobrol.

Ada dua jenis solidaritas yang dikemukakan Durkheim, yaitu solidaritas mekanik dan organik. Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu ‘kesadaran kolektif’ bersama (collective consciousness/conscience) yang merujuk pada ‘totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga masyarakat yang sama’. Lebih jelas, dalam karyanya yang berjudul The Division of Labor in Society (terbit pertama tahun 1893), ia menjelaskan bahwa solidaritas mekanik merupakan solidaritas yang tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula. Oleh karena itu, individualitas tidak berkembang; individualitas itu terus menerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali untuk konformitas.

Pada sisi yang lain ada solidaritas organik, didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi. Saling ketergantungan itu bertambah sebagai hasil dari bertambahnya spesialisasi dalam pembagian pekerjaan, yang memungkinkan dan juga menggairahkan bertambahnya perbedaan di kalangan individu. Dalam konteks yang sangat umum, konsep solidaritas mekanik biasanya dijumpai pada masyarakat tradisional. Sedangakan mayarakat kota diidentikan dengan solidaritas organik.

Di luar itu semua, tradisi minum çay yang dilakukan secara kolektif sepertinya mampu memunculkan rasa solidaritas yang sangat tinggi satu sama lain. Tidak memandang perbedaan latar belakang dan status sosial yang melekat pada setiap individu. Rasanya sangat sulit untuk tidak meneguk çay dalam satu hari di Turki. Karena minuman ini sangat lekat dengan keseharian mereka. Bahkan sekitar sebulan lalu, video promo sebuah iklan di Turki yang tersebar di media sosial menggambarkan ekspresi beberapa pengunjung cafe yang melakukan kahvaltı (sarapan) tanpa disuguhi teh. Terlihat sekali mereka nampak tidak senang, dan beberapa di antaranya merasa sangat aneh dengan mengatakan “kenapa tidak ada teh?”

Sungguh, teh adalah tradisi yang sangat unik dan patut dijaga, sebagai usaha membangun solidaritas dan keakraban dalam kebersamaan. Seperti kata kawan saya, jika Anda minum çay sendirian, kemungkinan Anda sedang dalam suasana hüzün (melankolik).

Akhirnya, saya ingin mengutip salah satu peribahasa Turki yang sangat menarik, “çay sıvı bilgeliktir” (tea is the liquid of wisdom). Haydi çay içelim!


Didit Haryadi
Pimpinan Redaksi Turkish Spirit. Mahasiswa master program Sosiologi di İstanbul University. Person İn Charge untuk İndonesia Turkey Research Community (İTRC) di İstanbul.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »