Di Sille, Sebelum ke Yerusalem

08.51.00

Di sana berdiri tegak sebuah Biara Putih (Ak Manastir) yang dibangun pada 327 M oleh Helena, ibu Constantine the Great, dalam sebuah perjalanan haji menuju Yerusalem.

[Para Peziarah Selfie Ria dalam Biara. Foto Didit Haryadi]
Perjalanan haji (pilgrim) bangsa Byzantium, dikenal juga Imperium Romawi Timur, menuju Yerusalem menghabiskan waktu perjalanan berbulan-bulan. Perjalanan suci menapaktilasi Sang Juru Selamat, Yesus Kristus, yang disalib di dataran Bukit Golgota di Yerusalem itu, menjadi ritual agung pada masa-masa awal kekristenan Imperium Romawi pada medio abad keempat Masehi.

Berangkat dari sisa Dinasti Romawi Barat di Roma menuju tampuk kekuasaan Byzantium yang baru gagah berdiri di Konstantinopel (Istanbul sekarang), rute perjalanan suci mereka membelah tanah Anatolia, melewati desa Sille di dataran tinggi provinsi Konya modern. Sille menjadi tempat ideal untuk istirah, berada di tengah-tengah perjalanan panjang antara Roma (pusat) dan Konstantinopel ke Yerusalem.
[Interior dalam Biara. Foto +Turkish Spirit]
Awalnya, Sille tak lebih dari sekadar tempat pemberhentian untuk bermalam bagi para peziarah. Namun dalam perkembanganya, biara, rumah-rumah hunian di bukit batu, tempat mandi, dan barak pun dibangun untuk menandai sebuah peradaban kecil tepat di tengah-tengah apitan dan lengkung bukit. Meskipun daerah ini sudah pernah dihuni sejak zaman Neolithic sekitar tahun 6800 SM (terbukti dengan ditemukannya situs baru bernama Çatalhöyük, ke arah tenggara dari pusat kota Konya, berupa rumah-rumah hunian yang terbenam tanah, sekitar 40 km dari Sille), jejak dan artefak sejarah yang tersisa dan bisa disaksikan secara langsung dari peradaban Byzantium kembali direnovasi untuk tujuan wisata.

Di sana berdiri tegak sebuah Biara Putih (Ak Manastir) yang dibangun pada 327 M oleh Helena, ibu Constantine the Great, dalam sebuah perjalanan haji menuju Yerusalem. Di dalam Ak Manastir yang difungsikan menjadi museum itu, kita bisa menyaksikan dengan jelas simbol-simbol kebesaran Romawi dan tulisan-tulisan Yunani.

Sejak saat itu, mereka yang yang awalnya hanya mampir kemudian menjadikan Sille sebagai tempat tinggal. Sille lalu menjadi perkampungan yang dihuni oleh orang-orang Yunani Kristen hingga beranak-pinak pada abad-abad berikutnya.
[Rumah-Rumah Batu di Tebing Bukit. Foto +Turkish Spirit]
Pada masa kejayaan Imperium Saljuk di Anatolia abad 12, desa kecil ini terbina sebagai cermin koeksistensi agama Islam-Kristen. Kedatangan Jalaluddin Rumi (1207-1273) dari Afghanistan ke Anatolia, di Kota Konya sebagai pusat kekuasaan Saljuk, berkontribusi terhadap perdamaian yang menakjubkan sebagai eksemplar hubungan indah kedua agama.

Rumi, melalui kekuasaan sultan di masa keemasan Imperium Saljuk, kemudian membangun sebuah masjid kecil di sekitar biara, dan lalu meminta kepada warga Turki Muslim untuk tidak menyakiti warga Yunani Kristen yang sudah berabad-abad tinggal di Sille.

Namun sayangnya, koeksistensi Islam dan Kristen yang terbina damai lebih dari 800 tahun ini akhirnya pecah pada 1922, di saat Imperium Usmani sudah lemah, mau rontok dan perang terjadi di mana-mana. Akibatnya adalah pengusiran (penduduk lokal Turki menyebutnya “pertukaran”) penduduk Sille Kristen agar kembali ke negara asalnya Yunani. Sementara sebagian warga Turki Muslim di Yunani diminta untuk kembali ke Sille. Hingga hari ini, bisa dipastikan tidak ada lagi warga Kristen yang tinggal di Sille.
[Biara Tampak dari Luar. Foto +Turkish Spirit]
Bila Anda sempat bertandang ke Konya, menelusuri jejak-jejak peradaban Imperium Saljuk (seperti masjid dan makam-makam para raja di Alladdin Tepesi tengah Kota Konya), berziarah ke ulama besar seperti Maulana Jalaluddin Rumi, Shemsi Tebriz, dan Sadr al-Din al-Qunawi, jangan melewatkan situs sejarah Sille, sekitar 8 km ke arah utara dari pusat kota.

Rute ke Sille sudah sangat mudah dicapai dengan fasilitas bus kota milik pemerintah. Bagi pelajar internasional di Konya, semua fasilitas transportasi publik milik pemerintah digratiskan, seperti bus dan tramway. Bagi orang asing, biaya transportasi pulang-pergi cukup 4 Lira (sekitar Rp 20 ribu) sudah bisa menjelajahi Sille dengan puas.

Di sekitar situs-situs sejarah di Sille, makanan khas Konya, hotel dan restoran sudah tersedia. Mengunjungi Sille, seperti diakui oleh para pelancong, seperti menyelam dalam sejarah, karena dari titik kecil itu kita akan menjumpai rentetan sejarah panjang antar peradaban yang saling kelit-kelindan.

Di Sille, selain Biara Putih yang sekarang sudah difungsikan menjadi museum dengan artefak-artefak arkeologis seperti batu kuno dan tulisan-tulisan dengan huruf Karamanli Turkish, kita akan menyaksikan kuburan-kuburan dari ribuan tahun silam dan rumah-rumah di tebing bukit batu. Rumah-rumah hunian seperti itu mengingatkan kita kepada banyak situs sejarah di tanah Anatolia, misalnya di Cappadocia, Amasya dll. Berjalan ke puncak bukit, kita akan menemukan jembatan tua yang bernama Jembatan Setan (Şeytan Köprüsü). Di balik bukit, ada bendungan air (dam) yang dibangun oleh pemerintah Konya untuk kebutuhan warganya. Di sepanjang tepian dam, warga lokal ataupun pelancong bisa menikmati kesegaran angin dan suasana hening yang syahdu.
[Jembatan Setan. Foto +Turkish Spirit]
Jembatan Setan menjadi penghubung dua pungguk bukit di lereng desa Sille. Gestur tanah di Sille yang berbentuk seperti cekungan lembah, diapit di antara bukit-bukit, membutuhkan jembatan. Nama unik Jembatan Setan yang hingga sekarang belum terpecahkan makna sebenarnya ini melengkapi sensasi sejarah masa lalu Sille.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di Okezone,com


Bernando J. Sujibto Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Sedang merampungkan riset tesis tentang karya Orhan Pamuk. Follow Twitter @_bje.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »