Şanslı Kız

01.39.00

Ia selalu menganggap semua hal sebagai keberuntungan. Termasuk yang menurutku masuk dalam hitungan kesialan

[Gambar Zeynep Özatalay]
Aku mengikat tali sepatuku cepat-cepat sebelum kemudian menyambar tas samping yang tergeletak di lantai. “Aku pergi, Anne[1]!” teriakku tanpa menunggu jawaban. Kususuri tangga demi tangga dari lantai tiga menunju lantai dasar. Huff. Melelahkan. Inilah yang kulakukan tiap kali pergi ke luar. Apartemen kami tidak memiliki lift. Sesuatu yang membuatku mengeluh sepanjang waktu walaupun Anne selalu mengatakan bahwa ini baik untuk kesehatanku.

Kutepuk bahu kiri gadis berambut hitam lebat yang berdiri di samping pintu. “Hadi gidelim, kanka[2]!”

Ia membalasku dengan senyuman yang membuat sepasang lesung pipitnya terlihat. Itulah Marwa. Tak pernah mengeluh walaupun aku seringkali membuatnya terlambat datang ke kelas. Padahal, yang seharusnya terlambat itu Marwa, bukan aku. Aku selalu pulang ke rumah setelah kelas. Namun Marwa harus pergi bekerja di rumah makan kebab dari jam empat sampai sepuluh malam tiap haftaiçi[3] setelah kelas. Itulah sebabnya ia baru akan sampai di rumahnya pada pukul 23.00 atau 23.30 waktu Turki. Meski demikian, ia selalu mengatakan bahwa ia sungguh beruntung lantaran tidurnya selalu pulas karena kelelahan.  

Setelah saling mengecup pipi sebanyak tiga kali, aku dan Marwa pun segera berlari beriringan menuju stasiun kereta Izban yang terletak di antara hiruk pikuk Karşıyaka[4]. Karena jam kelas kami bersinggungan dengan jam para pekerja, mau tidak mau kami harus menyusup di antara kerumunan yang membuat waktu kami lebih terulur lagi. Aku dan Marwa berlarian menyusuri tangga panjang menuju ke terowongan tempat kami menunggu kereta Izban dan menabrak beberapa orang tua yang menyisakan gerutu panjang. Tepat ketika kaki kami berhasil menginjak baris terakhir tangga, kereta Izban yang hendak kami tumpangi tampak melaju pergi.
         
Off! Salak ya![5]” kupukul jidadku sebanyak tiga kali. Semua ini dimulai karena aku tidur terlambat kemarin malam lantaran sibuk menyusun rencana liburan ke kota Bodrum. Akibatnya, aku bangun kesiangan. Keterburu-buruanku menyebabkan sarapan yang sudah disiapkan Anne tidak tersentuh. Gara-gara itu, bukan hanya soal perut, kami juga ketinggalan kereta Izban. Tentu saja masih ada kereta berikutnya. Namun, siapa yang mau menunggu?

Kutemukan Marwa terkekeh-kekeh melihat perilakuku. “Sakin ol, kız![6] Baksana kanka! Kereta Izban tadi sangat sesak. Bisa jadi Izban berikutnya akan lebih sepi. Şanslıyız yani.[7]

Aku hanya mengernyitkan sebelah alis. Gadis aneh, gumamku. Ia selalu menganggap semua hal sebagai keberuntungan. Termasuk yang menurutku masuk dalam hitungan kesialan. Transportasi publik dari kawasan ramai seperti Karşıyaka tak pernah sepi, asal tahu saja.

Kami berdiri lumayan lama demi menunggu kereta Izban yang datang berikutnya. Huff! Perjalanan yang sangat panjang. Bayangkan! Dari Karşıyaka, kami harus melalui beberapa stasiun hingga sampai ke Halkapınar yang menghabiskan waktu sekitar 11 menit. Dari stasiun Halkapınar, kami harus ke luar dari kereta Izban dan berpindah ke kereta Metro arah Evka 3 untuk menuju stasiun Ege Üniversitesi. Itu belum termasuk waktu yang kami gunakan untuk berlarian berpindah tempat. Belum lagi, setelah sampai di stasiun Ege Üniversitesi, kami harus menyusun beberapa langkah cepat untuk sampai ke Fakultas Ilmu Komunikasi.

Benar saja, aku dan Marwa terlambat. Kami tidak diperbolehkan masuk. Kuatur nafasku dengan bersandar di dinding dekat pintu kelas. “Devamsızlıktan kalcaz, kız[8],” kataku seraya menatapnya nanar. Sekarang apalagi yang akan dikatakannya, he?

Marwa tersenyum, lagi. Ditepuknya bahuku beberapa kali. “Inshaa Allah enggak. Kita masih punya...,” tangannya tampak sibuk menghitung, “kita bisa bolos kelas maksimal dua kali lagi.”

Alis mata kananku semakin naik. Ia melanjutkan, “Yine şanslıyız biz. Kita bisa pergi sarapan sekarang. Kamu belum sarapan kan?”

Dasar aneh, gerutuku dalam diam.

Aku tak pernah bisa memahami bagaimana Marwa mampu mengambil sisi emas dari kesialan. Hatiku jadi bertanya-tanya, apakah ia tidak pernah bersedih, marah atau pun kecewa?

Setelah menyadari bahwa rupanya kami sudah terlalu lama berdiam diri di ambang pintu tanpa melakukan apa-apa, aku dan Marwa pun pergi ke Ziraat Cafe yang tidak jauh dari fakultas kami untuk sarapan.
         
Aku dan Marwa duduk di pojok cafe. Sibuk menikmati açma[9] dan çay[10] yang kami beli sambil mendengarkan alunan lagu-lagu Turki yang diputar dan berisiknya mahasiswa/i yang saling berseda gurau atau bermain tavla di sekeliling kami. Mataku berkeliling menatap satu per satu mahasiswa yang mulai ramai berdatangan layaknya kawanan semut dari arah pintu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sudah kurencanakan sejak kemarin malam.

Setelah menelan gigitan açma isi keju terakhirku, dengan senyum selebar daun kelor, kuungkapkan niatanku pada Marwa untuk mengajaknya jalan-jalan sebelum vize[11] tiba. “Ke Bodrum yuk!”

“Bodrum?”

Aku mengangguk cepat dan menimpali, “Sebelum vize dimulai, sayang. Lihat deh!” Kubuka ponselku demi menunjukkan padanya beberapa foto kota Bodrum yang sudah kutelusuri semalam suntuk. Aku terus mengoceh tanpa menyadari bahwa Marwa mulai terisak. Mata dan hidungnya sangat merah. Tangannya yang gemetar hebat membuat çay yang sama sekali belum diteguknya tumpah mengenai meja. Kontan aku tercekat. Kupegang jemarinya yang mendingin, erat-erat. “Ne oldu?[12] Aku salah ngomong ya?”

Marwa berusaha menahan tangisnya. Namun gagal. Beberapa bulir air matanya berderai hebat. Kupegang bahunya erat-erat dalam kebingungan. Kami hening beberapa saat lamanya. Hanya isakan Marwa yang terdengar, di samping lagu-lagu Turki yang larut dalam keramaian kafe. Kuletakkan kepala Marwa ke bahuku dalam pelukan lantaran aku merasa keberadaan kami telah menarik perhatian beberapa pengunjung kafe.

Dentum detik bergerak sangat lambat rasanya. Marwa menarik kepalanya dan mulai bercerita. Menceritakan luka lama yang belum begitu kering dalam memori.

Semuanya bermula ketika kakek dan pamannya yang seorang tentara bertengkar dengan ayahnya yang seorang staff pengajar. Waktu itu Marwa masih tinggal bersama keluarganya di Aleppo, salah satu kota yang kini jadi antah-berantah di Suriah akibat perang. Kakek dan paman memaksa ayah Marwa untuk ikut membela negeri, konon. Namun ayah Marwa menolak dengan alasan bahwa ia adalah staff pengajar. Bukan tentara yang pandai bermain dengan senjata seperti kakek dan paman Marwa.

Marwa masih ingat jelas waktu itu. Ia, adik lelakinya Ali dan ibunya mendengarkan diskusi ayah, kakek dan pamannya di ruang tengah yang berakhir dengar pertikaian yang bertajuk teriakan, gertakan, dentum kursi ditendang dan kata-kata kasar hingga ia dan Ali terlelap. Ia tak tahu bagaimana akhirnya ayah mereka mampu meyakinkan kakek dan paman untuk tidak memaksanya ikut berperang.

Esok sampai beberapa hari berikutnya, bom jatuh di mana-mana. Suara tembakan dan ledakan mulai terbiasa didengar oleh Marwa sekeluarga. Bau anyir darah yang membungkus daging segar mudah didapati dimana-mana. Kakek, paman dan beberapa anggota keluarga Marwa meninggal akibat kekejaman yang tidak pandang bulu itu. Aleppo kampung halamannya sudah tidak aman. Kamis malam itu, pada tengah malam ketika semua orang terlelap, ayah membangunkan Marwa dan adiknya untuk cepat-cepat berkemas dan meninggalkan Aleppo. Marwa sama sekali tidak menyangka bahwa itu adalah malam terakhirnya untuk tidur di kasur kesayangannya; di ruangan yang biasanya ia habiskan untuk tidur, menonton film, membaca buku ataupun bercanda gurau dengan Ali, adiknya. Sama seperti apa yang dilakukan remaja dan anak-anak pada umumnya.

“Setelah melewati perbatasan Turki, kita akan pergi ke Bodrum. Dari Bodrum, kita akan pergi ke Pulau Kos. Dari sana, kita bisa pergi ke Athena naik ferry. Dari Athena, kita akan pergi  ke Italia, Prancis, lalu Inggris melalui terowongan Channel. Kita bisa mencari suaka di sana. Abi[13] punya kenalan di Inggris. Inshaa Allah mereka bisa membantu kita,” jelas ayah kepada ibu Marwa yang hanya memandangannya tanpa ekspresi. Kedua tangannya sibuk menimang-nimang Ali yang terus saja menangis. Sedangkan Marwa, ia hanya duduk terdiam di pojok truk yang mengangkut keluarganya. Membisu dengan air mata yang sudah kering di kedua belah pipinya. Masa depannya tampak buram. Apakah ia dapat menggapai cita-citanya sedangkan perjalanan panjang yang terjal dan melelahkan menghadang di hadapannya? Perjalanan yang mengharuskan ia meninggalkan sekolah, kampung halaman yang dicintainya dan segala sesuatu yang akan sangat ia rindukan suatu saat nanti. Mungkinkah...
         
Hampir dua bulan Marwa dan keluarganya menumpang di rumah orang Turki yang merupakan kawan ayahnya. Ia beruntung tidak perlu menderita di tenda pengungsi atau tercecer di taman bermain kota dengan hanya makan ekmek[14] dan yogurt setiap hari atau membiarkan ulat-ulat menggerogoti dagingnya yang semakin tipis.

Sore itu, mereka memperoleh kabar bahwa Marwa sekeluarga bisa menyeberang dari Bodrum ke Pulau Kos, Yunani melalui laut Ege pada tengah malam. Sebenarnya, Marwa dan ibunya sangat tidak menyukai jalur laut. Ah! Mereka benci semua jalur, sesungguhnya. Perjalanan mencari suaka sangat menguras tenaga dan peluh. Mereka hanya ingin kembali ke rumah mereka di Suriah andaikata tidak ada pertumpahan darah. Jika mereka memiliki pilihan, hidup sederhana di rumah sendiri akan jauh lebih luar biasa daripada menjadi pencari suaka di negeri yang kaya raya.

Sekitar pukul 02.00 malam waktu Turki, pelabuhan Bodrum sangat ramai oleh para pencari suaka yang hendak menyebrang dengan perahu karet ke Pulau Kos yang jaraknya 4 km lebih.

Marwa sudah mengenakan jaket pelampungnya saat itu. Sepasang tangannya memegang tas berisi dokumen dan pakaian ketika ibunya sibuk memasangkan jaket pelampung untuk Ali yang terus menangis. Gemericik air, tangisan anak-anak, teriakan para pencari suaka, aroma asam keringat dalam malam yang semakin pekat membuat kepala Marwa terasa sakit. Walau hanya 4 km, ia merasa takut. Perahu karet yang hendak ditumpanginya tampak rapuh. Pun jumlah penumpang yang tidak sesuai dengan kapasitas seharusnya. Apalagi ditambah dengan angin yang malam itu berhembus kencang. Semuanya membuat Marwa takut. Ia takut tenggelam walau toh telah memakai jaket pelampung karena ia tidak dapat berenang.

Ibu Marwa mencium kening Marwa berulang kali sebelum akhirnya satu per satu dari mereka berempat bersama penumpang lainnya mulai naik ke perahu karet kecil itu. Ayah dan Ibu Marwa duduk di pojokan, sedangkan Marwa duduk di depan ayahnya. Kepalanya yang terasa berat ia sandarkan ke pangkuan ayahnya. Sepasang matanya yang mulai basah berusaha menenangkan Ali yang tangisannya mulai mereda. Marwa mengerti betul bahwa perjalanan panjangnya baru saja dimulai. Masih banyak liku terjal untuk memperoleh suaka di Inggris. Perjalanan yang akan memaksanya berlari dan bertumbukan dengan banyak pengungsi.

Perahu karet mereka pun mulai berjalan ke tengah laut Ege yang bergelombang karena hembusan angin. Waktu berjalan sangat pelan layaknya siput seiring ketakutan Marwa yang semakin meningkat. Bibirnya terus merapal doa. Sama seperti ayah dan ibunya. Sungguh, ia tak pernah menduga bahwa kehidupan indahnya di Aleppo akan tergores pisau tajam yang membuat hatinya cacat dan terapung pada lautan, angin, dan alam yang entah membawanya ke mana.

Lamunan Marwa terhenti ketika ia menyadari bahwa air laut mulai masuk ke perahu karet kecil mereka. Seluruh penumpang perahu yang mulai panik menepikan tas mereka supaya tidak basah ataupun melindungi dirinya dari air. Angin yang bertiup membuat gerakan pada perahu kecil itu tidak beraturan. Penumpang semakin panik. Anak kecil menjerit-jerit ketakutan akan semakin banyaknya air yang masuk ke perahu karet. Perahu kecil itu pun tidak bergerak di tengah lautan. Hanya terapung sebelum kemudian tenggelam perlahan.

Kejadiannya begitu cepat. Karena gelap, Marwa terlepas dari ibu, ayah dan Ali. Ia mendengar suara jerit dan tangisan yang samar.

“Abi! Ami! Ali![15]” teriak Marwa besahutan dengan teriakan para penumpang lainnya. Marwa yang tidak bisa berenang pun membiarkan tubuhnya terombang-ambing di lautan yang dingin; ketakutan. Matanya berusaha mencari cahaya. Kedua kakinya sibuk menendang-nendang air. Begitu juga tangannya. Namun bukannya menemukan pegangan atau mengenali setidaknya salah satu anggota keluarganya, ia justru merasa semakin jauh dari penumpang lainnya.

“Abi! Ami! Ali!” Marwa mulai menangis. Sebagian air masuk melalui mulutnya. Tak sengaja ia menelan beberapa. Nafasnya terasa sesak. Ia terus berteriak minta tolong hingga akhirnya ia mendengar tangisan Ali. Dihentakkannya kaki dan tangannya bersamaan demi menggapai sosok Ali yang tubuhnya terlihat sebagian. Badan bocah lelaki yang menangis itu tampak terlepas dari jaket pelampungnya. “Ali! Ali! الاصغر أخي. Akhi alasghar![16]” Merve terus menggerakkan kakinya tidak beraturan sambil menangis hingga dadanya terasa penuh oleh air. Angin sepoi malam yang seharusnya dapat dinikmati dengan kedamaian itu semakin mencekam. Tiba-tiba ia merasakan bajunya ditarik ke atas. Lalu semuanya menjadi gelap.

Marwa tak tahu hari apa itu ketika ia berbaring di sebuah kasur polos. Matanya mendapati beberapa orang yang bersahutan dalam bahasa Arab, Persia dan Turki di sekitarnya.

Kepalanya pun tiba-tiba sakit. Beberapa memoar kelam bergantian menghiasi kepalanya bagai komidi putar. Ia memukul kelapanya beberapa kali. Aku mimpi buruk, gumamnya sendiri.

“Dia sudah sadar!” seorang perawat Turki datang menghampirinya.

Semuanya berputar begitu cepat.

Kedua tangan Marwa menggenggam selimut dengan sangat erat. Tangannya gemetar. Ia terisak-isak tanpa air mata. Marwa kehilangan ayah, ibu dan adiknya Ali dimana jenazah ketiganya masih dalam pencarian.

 “Aku beruntung masih diberi kesempatan untuk hidup dan bertemu orang Turki yang baik mau menyekolahkanku,” ujar Marwa menutup ceritanya sambil menyeka air mata yang telah mengering. Jantungku seolah berhenti berdetak. Şanslı kız?[17]


[1] Ibu
[2] Ayo berangkat, Sob!
[3] Hari Senin-Jumat
[4] Salah satu nama setaraf kecamatan di kota Izmir, Turki
[5] Dasar bodoh!
[6] Tenang, girl!
[7] Kita beruntung.
[8] Kita akan tinggal kelas karena absensi.
[9] Sejenıs roti
[10] Teh
[11] Ujian Tengah Semester
[12] Kenapa?
[13] Ayah
[14] Roti yang merupakan makanan pokok orang Turki
[15] Ayah! Ibu!
[16] Tolong adik lelakiku
[17] Gadis yang beruntung.


Naelil Maghfiroh
Salah satu tim kontributor Turkish Spirit. Mahasiswa asal Jawa Timur ini sedang studi pada Jurusan Jurnalistik di Ege University, Izmir Turki. Aktif berorganisasi di PPI Turki dan menulis di blog pribadinya di sini.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »