Romantisme Perjumpaan Turki-Indonesia di Mekkah

14.48.00

Nyaris sulit menemukan cara lain mengenal orang Indonesia selain momentum perjumpaan ketika menunaikan ibadah Rukun Islam kelima

[Jamaah Haji Cilik Asal Turki, Mohammed dan Fatma. Foto +Avifah Ve]
Indonesia. Ya, saya adalah salah satu warga negara Indonesia yang tengah berada di Turki untuk studi. Sampai saat ini, ada sekitar 800 pelajar Indonesia dari berbagai jenjang pendidikan yang bermukim di Turki, baik dengan beasiswa maupun non-beasiswa.

Ketika di Indonesia, meski saya pribadi tidak jarang bertemu dengan orang-orang yang bermuka masam, alhamdulillah di sini (dan mungkin juga di negara-negara lainnya) pelajar dan masyarakat Indonesia dikenal ramah, murah senyum, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung (kriteria yang terakhir cuma tambahan pribadi, hiiii).

Di sini, ketika Türk (orang Turki) melihat saya, ada cukup banyak orang yang langsung bisa menebak: Endonezya, Malezya? Secara karakter wajah Asia Tenggara memang tidak jauh berbeda. Namun, mungkin masih banyak juga orang Turki yang belum terlalu mengenal Indonesia. Bagi mereka, biasanya pertanyaan diawali dengan nerelisin? (asal kamu dari mana?), bahkan tidak jarang juga yang langsung menyapa menggunakan nama negara tertentu untuk mendefinisikan orang asing. Suriyeli misin? (kamu dari Suriah?) adalah yang paling umum.

Jujur, saya dan tentu banyak orang lain juga akan lebih senang jika ditanya nerelisin dibandingkan Suriyeli misin. Karena menurut saya pribadi, pertanyaan tersebut terkesan seperti labeling. Kalaupun saya berasal dari Suriah, toh saya tetaplah saya; manusia. Namun demikian, saya coba memahami keadaan dan perasaan mereka kaitannya dengan hal ini. Saya kemudian hanya tersenyum semanis-manisnya dan mengatakan bahwa saya berasal dari Indonesia.

Banyak orang yang setelah mendengar kata Indonesia langsung berwajah sumringah, terlebih para teyze (ibu-ibu) atau amca (bapak-bapak) yang sudah pernah menginjakkan kaki ke Tanah Suci.

Bagi mereka yang sudah pernah pergi Haji atau Umrah, orang Indonesia dikenang sebagai sosok membanggakan dan memberikan kesan baik. Pada umumnya, mereka akan membandingkan orang Indonesia dengan mereka yang berbadan tinggi dan besar dari negara-negara lain, yang menurut orang-orang Turki tidak hanya postur tubuh mereka saja yang besar tetapi juga ego mereka.

Mayoritas rakyat Turki yang berusia di atas kepala lima rata-rata mengenal orang Indonesia melalui pengalaman mereka di Mekkah. Bagi kelompok masyarakat Turki yang berusia seperti itu, nyaris sulit menemukan cara lain mengenal orang Indonesia selain momentum perjumpaan ketika menunaikan ibadah rukun Islam kelima itu. Hal ini sudah menjadi rahasia umum.

Oleh karena itu, kita sebagai orang Indonesia akan diperlakukan istimewa dan sangat baik. Karena berdasarkan pengalaman perjumpaan masyarakat Turki di Mekkah, orang Indonesia sangatlah ramah dan murah senyum. Tidak suka berebut dan terburu-buru apalagi merugikan hak orang lain dalam beribadah selama berada di Tanah Suci. Mereka akan bercerita panjang lebar tentang pengalamannya dengan orang-orang Indonesia. Biasanya saya akan merespon dengan lagi-lagi senyum semanis-manisnya dan ucapan teşekkür ederim.

Terlebih lagi, yang seringkali mereka ingat dan dengan senang hati mereka ceritakan adalah tentang banyaknya masyarakat Indonesia yang mereka lihat mengunjungi Tanah Suci, berhaji dan mengikat janji suci alias menikah. Dengan semangat, mereka bercerita bahwa senin gibi gençler hacca geldiler ve orda evlenirler (banyak anak muda seperti kamu datang untuk berhaji dan menikah di sana).

Entah kenapa hal ini merupakan salah satu yang terkenal di kalangan masyarakat Turki. Berhubung saya belum pernah berhaji dan sampai saat ini tidak berkeinginan untuk menikah di Tanah Suci karena merasa tidak apa-apa dan bahagia menikah di negeri sendiri, serta karena kurangnya informasi, lagi-lagi dengan senyum semanis-manisnya, saya menjawab bahwa genellikle zenginler böyle yapıyorlar (umumnya orang kaya yang melakukan hal ini).

Begitu banyak kenangan orang-orang Turki terhadap keramahan dan kebaikan masyarakat Indonesia. Begitu dalamnya kesan yang mereka dapat, hingga tidak bosan-bosannya mereka menceritakannya lagi dan lagi.

Jadi, tersenyumlah, bersikap ramahlah, berbaik hatilah, karena bahkan orang-orang dari belahan dunia lain pun menganggap kita sebagai bangsa yang murah senyum, ramah dan baik hati. Jangan biarkan hal tersebut mengendap hanya sebagai sebuah anggapan apalagi hanya sebagai kenangan.


Nanik Yuliyanti
Keturunan Jawa asli yang numpang lahir dan tinggal di Lampung. Mahasiswi Master yang mungkin ngga terlalu pintar tapi bisa dibilang rajin tingkat dewa di Necmettin Erbakan University, Konya. Sedang menempuh pendidikan di jurusan Dinler Tarihi atau Sejarah Agama, namun sangat tertarik dengan dunia pendidikan dan anak-anak. Berencana untuk tetap berkecimpung dalam dunia anak-anak setelah menyelesaikan pendidikan.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »