Mereka Melenyapkan Kicauan-Kicauan Burung Itu

03.14.00

Kami semua hidup di bawah satu bendera di negara ini

[Sisi Keberagaman Turki. Foto sevgiforum.net]
Trauma para korban bom yang meledak (20 Agustus 2016) di distrik Akdere kota Şahinbey, Provinsi Gaziantep belum hilang. Akdere adalah arena kosmopolitan yang menjadi rumah bagi masyarakat dari latar belakang etnik yang berbeda. Salah satu warga mengatakan, di sini ada 5 macam bahasa walaupun saya tidak paham semuanya. Bahasa-bahasa itu seperti kicauan burung bagi telinga saya. Bom itu telah melenyapkan kicauan-kicauan tersebut. Berikut merupakan catatan Abdülkadir Konuksever.

Jalan-jalan Gaziantep masih menyisakan kekacauan setelah 55 jiwa melayang dan 91 luka-luka akibat teror bom. Tema pembicaraan di kota hanya ledakan, para warga tak kuasa menyembunyikan rasa ketidaknyamanan mereka. Pengaruh serangan teror itu bisa dilihat dengan jelas. Gang-gang terlihat sepi dari biasanya. Pusat perbelanjaan tak bisa dibilang ramai. Bus wisatawan kota yang terkenal kulinernya tercatat di daftar Gastronomi UNESCO ini tak terlihat berseliweran.

Kecemasan tingkat lebih tinggi terlihat di distrik Akdere, tempat meledaknya bom. Gang-gang terlihat ramai tak seperti sisi lain dari kota ini. Orang-orang mendatangi tempat meledaknya bom untuk melihat tkp lebih dekat. Sebagian sedang takziyah di rumah duka sebagian berkeliling di jalanan karena penasaran. Para warga menonton kerumunan manusia yang penasaran itu dari rumah.

Saya tak bisa melakukan apa-apa karena trauma

Mehmet Karadaş—salah satu orang yang menyaksikan keramaian itu ketika terjadi ledakan—berada sejauh 50 meter di gang sebelah atas tekape. Berbarengan dengan ledakan bom ia berlari menuju tempat kejadian. Ia menerangkan, saat terdengar suara aku meloncak dari tempat duduk. Seketika saya menguasai diri, saya langsung berlari ke tempat ledakan bom. Semua tergeletak. Sebagian luka-luka sebagian lagi terbaring begitu saja—tanpa gerakan.

Setelah melihat itu semua, saya mengira saya seolah berada dalam mimpi, kami membantu korban luka dan menaruh mereka ke mobil. Ambulans belum datang. Ketika ambulans datang kami menaruh tiga sampai empat korban luka ke dalam. Saya trauma setelah itu, saya tidak bisa melakukan pekerjaan apapun, makan pun tak doyan. Perut tak bisa menerima. Semoga Allah mengutuk ISIS, mereka dalang dibalik ini semua.

Mereka ingin membenturkan kami satu sama lain

Güllü Çetin tinggal di distrik Beybahçe. Menurut dia ledakan bom di sini mempunyai suatu tujuan.

Oğlum, di sini satu sama lain tak pernah saling membuat rugi. Kurdi, Turki, Zaza, Arab dan Alawi merupakan mayoritas di sini. Mereka bertujuan memperkeruh keadaan negara dan membenturkan kami satu sama lain. Tapi apa yang terjadi, lihatlah kami semua di jalanan menangisi korban yang meninggal. Kami semua hidup di bawah satu bendera di negara ini. Dan kami akan meneruskan ini semua. Satu sama lain tak akan bermusuhan,” ujar Çetin panjang lebar.

Mereka melenyapkan kicauan-kicauan burung itu

Salah satu saksi mata kejadian ledakan itu adalah Bülent Boylu. Ia menjelaskan bahwa detik-detik sebelum ledakan semua orang sedang menyaksikan pesta pernikahan. Saya tak percaya pemandangan ini. Saya tak percaya hal ini terjadi. Anak usia 12 tahun meledakkan diri di depan mata saya. Seberapa kejam dan tak punya hati mereka ini. Mereka ingin membuat Suriah di sini, namun di sini tak mungkin akan menjadi Suriah. Di gang kami orang Kurdi, Alawi, Türkmen, Zaza, Arab, Turki hidup berdampingan. Di jalan semua suku berbicara sesuai bahasa ibu mereka. Saya tak paham apa yang mereka katakan. Suara mereka seperti kicauan burung di telinga saya. Dan aksi teror kemarin melenyapkan kicauan-kicauan itu. Tetangga kami yang paling baik adalah orang Kurdi. Mereka jujur, tak pernah merugikan satu sama lain. Kita saling antar makanan ke rumah. Kita biasa duduk di kedai kopi bermain permainan bersama. Kita hidup rukun tak pernah ada cekcok. Mereka yang mengebom kita tak akan berhasil membenturkan kami satu sama lain.

Setelah ledakan tersebut masyarakat Gaziantep memasang bendera negara di mobil, jendela. Bilboard juga penuh akan bendera. Masyarakat Gaziantep berjuang melewati trauma ini. Kota Gaziantep sedang menunggu kicauan-kicauan burung itu kembali. Seperti kata Bülent Boylu di atas “jika tak ada kicauan-kicauan itu Gaziantep akan kehilangan warnanya”.

Oğlum (Anakku, di sini Güllü Çetin memanggil penulis dengan sebutan oğlum yang berarti anakku atau nak )

Sumber: Al jazeera
Penulis: Kadir Konuksever
Penerjemah: Hari Pebriantok


Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »