Mengenal Komunitas Masyarakat Indonesia di Turki Bagian 2

15.08.00

Berusaha membantu orang-orang yang mempunyai ketertarikan khususnya dengan kota Konya ataupun Jaluluddin Rumi 


Berikut adalah tulisan bagian kedua komunitas masyarakat Indonesia di Turki. Redaksi TS terus berusaha menjaring komunitas-komunitas masyarakat Indonesia di Turki untuk edisi berikutnya. Semoga bermanfaat.

Komunitas Masyarakat Indonesia Di Konya (KOMIK)
Tahun Berdiri: 2011
Jenis komunitas: Kekeluargaan dan kultural
[Dok Pribadi KOMIK]
Selain PPI Daerah di masing-masing kota di Turki, masyarakat Indonesia mempunyai komunitas lain yang menampung keberadaan mereka secara lebih kultural dan tidak hierarkis. Jika organisasi seperti PPI terkesan formal dan hierarkis, Komunitas Masyarakat Indonesia di Konya (Komik) dibikin sebelum PPI Konya lahir. Para pendiri Komik adalah para pelajar awal dari Indonesia yang studi di Konya. Mereka adalah Dr. KH. Ahmad Faiz, Labib Syauqi, Gusty Ayuman Mukasafah, dan yang lain.

Sebagai komunitas, Komik tidak mempunyai visi-misi muluk. Mereka hanya demi menampung pelajar dan sekaligus orang-orang Indonesia yang tinggal di Konya. Karena PPI hanya organisasi untuk pelajar, Komik hadir untuk mewadahi mereka di luar pelajar juga. 

“Komik bukan sebagai organisasi tapi hanya sekedar nama buat sekumpulan masyarakat indonesia di Konya. Tidak AD/ART, tak ada pula visi misi. Sekedar tujuan santai ya ada, yaitu merekatkan ukhuwwah sesama WNI apapun profesinya (pelajar-mahasiswa-pekerja-ibu rumah tangga dll). Di samping itu untuk mengobati rasa kangen dengan segala nuansa dan rasa "ke-Indonesiaan", misalya seperti bikin masakan ala Indonesia, ngerumpi khas kita, ngaji ala Indonesia, dll,” terang Dr. KH. Ahmad Faiz di salah satu wawancara.

Alumni program doktor Sastra Arab di Selcuk University yang sekaligus pengasuh di salah satu Pondok Pesantren di Kudus itu mengharapkan komunitas seperti Komik dan sejenisnya yang kultural dan berkeindonesiaan harus tetap digiati agar persaudaraan sesama anak bangsa terus terjada.

Seperti ditambahkan oleh Labib Syauqi, di samping menjadi komunitas berkumpulnya WNI di Konya, KOMIK juga secara tidak langsung menjadi duta budaya Indonesia di Konya, ataupun sebaliknya, berusaha membantu orang-orang yang mempunyai ketertarikan khususnya dengan kota Konya ataupun Jaluluddin Rumi (hari/ts).

Gita Seni dan Budaya Indonesia (GISBI)
Tahun Berdiri: 2013
Jenis komunitas: Kesenian dan kebudayaan
[Salah Satu Kegiatan GISBI. Foto Dok. Pribadi]
Gita Seni dan Budaya Indonesia (GISBI) adalah lembaga otonom dari PPI Istanbul yang bergerak dalam pengelanan kebudayaan Indonesia baik di wilayah Istanbul dan Laut Marmara. GISBI yang dibentuk di Istanbul pada tanggal 11 Maret 2013 ini mempelajari dan mempertunjukkan beberapa karya seni seperti tari, musik, teater dan juga stand budaya di acara-acara tertentu. GISBI memiliki anggota aktif sebanyak 20 mahasiswa/i Indonesia yang sedang menempuh kuliah di Istanbul. Di samping itu, mahasiswa asing juga diperkenankan hadir untuk mempelajari tarian atau musik yang mereka minati ataupun ikut tampil di acara-acara tertentu.

Pada usianya yang ke-3 tahun ini, GISBI dan PPI Istanbul berhasil membuat impresi baik tentang Indonesia di Istanbul. Sebagai bukti, semenjak dibentuk GISBI berhasil meraih dan mempertahankan prestasinya sebagai juara 1 dalam kompetisi tari daerah dari tahun 2013 sampai 2016 dalam acara Türk Dünyası ve Uluslararası Öğrenciler Şoleni (Dunia Turki dan Festival Pelajar Internasional) yang diselenggarakan rutin setiap tahun oleh Türk Ocağı pada awal musim panas. Di acara yang sama, GISBI juga menjuarai lomba stand budaya pada tahun 2013 dan 2014 dan juga lomba musik dan suara sebagai juara 2 tahun 2015 dan Favorit Juri 2016.

Selain aktif dalam memperkenalkan Indonesia lewat kompetisi internasional, GISBI bekerja sama dengan KJRI Istanbul mengikuti pameran budaya untuk pelajar Internasional yang diadakan setiap tahunnya oleh Bab-İ Allem juga di awal musim panas. Selain itu untuk mengobati rasa rindu akan tanah air dan juga untuk memperkenalkan Indonesia lebih dalam kepada masyarakat Indonesia dan warga asing yang berminat dengan Indonesia, GISBI, PPI Istanbul dan KJRI Istanbul bekerja sama mengadakan acara Hari Indonesia.

“Pada 2011 sebagai peringatah ulang tahun GISBI yang pertama, kami menggelar acara Gebyar Gisbi yang bertemakan Takımadanın Hazineleri (Harta karun Negara Kepulauan) dan Endonezya’dan Selamlar (Salam dari Indonesia) pada tahun 2015,” terang ketua GISBI Reza Davidson.

Tidak hanya berhenti di Turki, GISBI juga diundang untuk tampil di acara International Student Festival yang diadakan oleh UDEF (Federation of International StudentAssociation) di Sarajevo, Bosnia dan Herzagovina pada tahun 2014 (didid/ts).

Indonesia Turkey Research Community (ITRC)
Tahun Berdiri: 2014
Jenis komunitas: Kelompok Diskusi dan Riset
Website: www.itrc.or.id
[Kegiatan ITRC. Foto Dok. Pribadi]
Berawal dari ketidaksukaan sekelompok mahasiswa baru tahun 2014 yang merasa tidak dibantu oleh Perkumpulan Pelajar Indonesia di Istanbul dalam proses kedatangan dan penjemputan mereka, serta pengenalan awal tentang suasana akademik di Turki, para mahasiswa tersebut kemudian membentuk sebuah komunitas untuk membuka ruang informasi dan akademik lebih luas tanpa perlu tergantung pada kelompok dan perkumpulan yang telah ada. Pada September 2014, bertempat di Hasan Tahsin Sokak, Sirinevler, Indonesia Turkey Research Community yang disingkat menjadi ITRC kemudian terbentuk dan secara perlahan turut eksis dalam pergaulan mahasiswa dan pelajar di Turki dan Istanbul pada khususnya.

ITRC  merespon dan membuka ruang perdebatan secara ilmiah terhadap isu-isu yang menjadi perbincangan dalam relasi para pelajar Indonesia di Turki. Sebagai contoh ketika ada isu tidak menyenangkan dalam pemilihan Ketua PPI yang dikaitkan dengan upaya golongan tertentu yang berafiliasi dengan partai politik, ITRC mengadakan diskusi dengan topik Political Islam dan Empirisme dan Modernitas. Dalam merespon maraknya terorisme di dunia, ITRC mengadakan diskusi Memaknai Radikalisme Islam. Dalam kajian perbandingan, ITRC juga pernah mengundang pakar dari Rusia, Malaysia, Tanzania dan Filipina untuk membahas Islam dan ekonomi global. Terakhir, ITRC bekerjasama dengan Center for Democratization Studies (Cedes) mengadakan diskusi mengenai pendidikan berbasis komunitas.

“ITRC merupakan komunita riset yang bertujuan untuk melakukan kajian intelektual atas perkembangan demokrasi dan pembangunan di Indonesia dan Turki,” ujar Didid Haryadi, Person in Charge ITRC. Didid menambahkan bahwa dalam mengembangkan riset dan kajian lintasnegara, serta tindak lanjut dari kegiatan diskusi yang telah dilakukan, para pegiat ITRC kerap menulis dalam media cetak dan online yang ada di Indonesia. Hasil tulisan sebagian anggota tersebut juga telah dimuat ulang dalam laman ITRC.

“Para pegiat ITRC juga kerap mengikuti berbagai kegiatan akademik secara personal maupun saat mewakili ITRC dalam berbagai forum akademik di Turki maupun di negara lain,” ungkap Didid. Lebih lanjut Didid menjelaskan, dalam rangka mengembangkan budaya dan minat menulis, ITRC dan Cedes, serta penerbit Insignia juga telah bekerjasama dalam menulis bersama sebuah buku mengenai perkembangan demokrasi dan pembangunan di Indonesia. Buku ini direncanakan akan terbit awal tahun 2017 nanti (Luthfi Widagdo Eddyono, pendiri ITRC).

Inspirasi Ankara
Tahun Berdiri: 2014
Jenis komunitas: Kelompok Diskusi
[Kegiatan Inspirasi Ankara. Foto Dok. Pribadi]
Karena saking tidak mementingkan bungkus dan kemasan, komunitas ini kadang memakai nama "Diskusi Ankara" atau "Inspirasi Ankara." Tahun 2014 komunitas informal tersebut dibentuk oleh teman-teman pelajar Indonesia di Turki yang waktu itu sedang mengikuti kelas Kursus Bahasa Turki di Universitas-Universitas di Ankara. Inisiator awal adalah Sitti Aisyah Sungkilang dan Mughzi Abdillah.

Inspirasi Ankara lahir untuk mengisi waktu di sela-sela belajar Bahasa Turki, agar bisa berkumpul dan berdiskusi dengan tema bebas dan menyenangkan. Karena asyik dan fleksibel—di mana anggota bisa datang dari semua background jurusan dan termasuk mahasiswa-mahasiswa asing dari Turki, Prancis, Albania, Tunisa, Nijer, Filipina dll—komunitas ini akhirnya rutin tiap minggu berkumpul mendiskusikan tema-tema yang sesuai dengan minat dan background pendidikan.

“Landasan idenya bagiku karena tidak ada ilmu yang berdiri sendiri, tidak ada heirarki dalam dunia ilmu, sehingga baik exact maupun sosial mesti memiliki benang merah yang bisa dipertemukan. Tidak ada pengelompokan ilmu yang satu dianggap unggul atau lainnya rendah. Sebab satu sama lain berdialektika membentuk wacana-wacana baru,” kata Aisyah Sungkilang.

Yang unik dari komunitas ini, bahwa setiap orang sadar akan asyiknya forum diskusi karena tidak menjadikan bahasa sebagai kendala, melainkan rasa solidaritas pertemanan untuk lebih mengenal satu sama lain. Teman yang berbahasa Arab dan lupa kosakata dalam bahasa Inggris akan dibantu oleh kawannya sesama berbahasa Arab, begitupun orang Indonesia, Prancis, Turki, dll.

Diskusi Ispirasi Ankara awalnya berangkat dari teori evolusi yang dibahas oleh mahasiswa dari Ilmu Pertanian. Dari sana mereka mengembangkannya ke berbagai bidang yang diantarkan oleh teman-teman dari beragam jurusan.

“Saya rasa itu cukup berhasil. Ukurannya bukan kuantitas dari teman yang menghadiri diskusi, tapi konsistensi dari diskusi itu sendiri.” lanjut Aisya.

Pada tahun kedua, antusiasme pelajar asing semakin meningkat. Mahasiswa asing yang terlibat dalam kegiatan diskusi semakin bertambah. Mereka berasumsi forum diskusi nonformal seperti ini dibutuhkan kalangan anak-anak muda untuk saling bisa berbagi pendapat sehingga bisa memperkaya perpektif dalam menyikapi isu-isu global.

“Sayangnya, antusiasme teman-teman pelajar Indonesia yang justru menurun pada tahun kedua,” singgung Mughzi.

Forum yang awalnya hanya diperuntukkan untuk mahasiswa Indonesia kini diikuti banyak dari mahasiswa asing. Untuk itu, Inspirasi Ankara berharap teman-teman Indonesia sendiri harus tetap semangat menghidupkan forum diskusi seperti ini. Person in Charge komunitas ini adalah Aisya Sungkilang dan Mughzi Abdillah (bje/ts).

Lembaga Kajian Sosial Masyarakat Indonesia di Turki (LKSMIT)
Tahun Berdiri: 17 Juni 2012
Jenis komunitas:  Komunitas Kajian dan Jaringan
Website: www.lksimit.org 
[Kegiatan LKSMIT. Foto Dok. Pribadi]
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pergerakan warga Indonesia yang bermigrasi ke Turki semakin meningkat. Mereka telah memutuskan untuk berpijak bumi di negeri yang dahulunya dikenal sebagai kekaisaran Usmani. Mereka terdiri dari para pelajar, berkeluarga dengan orang Turki ataupun untuk bekerja dan lainnya. Dengan jumlah orang Indonesia yang makin pesat, banyak masalah yang muncul seperti izin tinggal, tradisi dan kultur, bahasa dan lain-lain yang harus ditunjang dan dibantu. Atas latar belakag tersebut, Lembaga Kajian Sosial Masyarakat Indonesia di Turki (LKSMIT) dibentuk.

Menurut informasi dari website resmi mereka, LKSMIT merupakan komunitas sosial yang didirikan oleh anak bangsa yang memiliki potensi untuk memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang di hadapi para WNI yang sedang berpijak bumi di negeri Turki. “Kami bergerak untuk membantu orang Indonesia khususnya yang ada di Turki dalam bentuk edukasi, kebudayaan, keagamaan, kemitraan dan kegiatan sosial lainnya,“ tulisnya dalam situs resminya.

Lembaga LKSMIT mempunyai visi untuk menyuburkan dan menghubungkan nilai- nilai kebaikan dengang menjalin tali persaudaraan di antara masyarakat Indonesia di Turki. Di samping itu, mereka bekerja untuk memperluas dan mempererat tali persaudaraan antara masyarakat di Turki, menjadi mitra setiap organisasi, lembaga, KBRI, wakil pemerintahan dan pemeritahan Turki juga sebagai fasilisator dalam meningkatkan hubungan persahabatan dengan masyarakat Turki maupun penduduk dari negara lain. Para anggota dari lembaga mereka memiliki sifat yang terbuka bagi setiap warga yang berdarah Indonesia.

LKSMIT yang saat ini diketuai oleh Ari Jullianto ini mempunyai berbagai kegiatan regular baik jangka panjang dan pendek yang juga berdasar dengan visi dan misi mereka. Program-program unggulan di antaranya adalah training pengurus dan kajian ilmiah yang dilaksanakan untuk menambah ilmu pengetahuan di bidang yang spesifik ataupun kajian terhadap masalah yang ada dan sekaligus menjalin silaturahmi. Program ini dilaksanakan setiap musim (panas, semi, dingin dan gugur).

Progam lainnya berbentuk penerbitan buku di kalangan masyarakat Indonesia yang berjudul Belajar Bahasa Turki. Program penerbitan buku ini bersumber dari ide-ide kedua pihak pengurus LKSMIT dan masyarakat Indonesia di Turki. Kegiatan lainya menerbitkan artikel dari warga Indonesia dengan tujuan meberikan informasi terkini tentang Indonesia dan Turki (nanda/ts).



Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »