Membaca Sejarah pada Batu Nisan Usmani

01.47.00

Bentuk batu nisan perempuan juga sangat unik. Jika batu nisan laki-laki berbentuk persegi panjang, maka untuk perempuan batu nisan dibentuk menyerupai lekuk tubuh perempuan

[Batu Nisan Masa Usmani di Museum ETI Eskisehir. Foto +Hadza Min Fadhli Robby]
Melancong ke Istanbul tak lengkap rasanya jika tidak berziarah ke makam salah satu sahabat nabi yaitu Abu Ayyub Al-Anshari. Kompleks makamnya terletak di masjid Eyüp, Istanbul dan dikelilingi oleh makam-makam yang khas dari zaman kesultanan Usmani. Daerah Eyüp Sultan di Istanbul dipenuhi oleh banyak makam karena pada zaman Usmaniyah daerah ini merupakan pemakaman umum yang pada saat itu diharuskan berada di luar benteng kota Istanbul. Hanya para sultan dan orang-orang penting kesultanan yang dimakamkan di dalam benteng kota seperti Sultan Al-Fatih yang dimakamkan di kompleks masjid Fatih.

Pada zaman Usmani, setelah jenazah menjalani ritual keagamaan, hal yang akan disiapkan oleh masyarakat pada waktu itu ialah batu nisan. Tak seperti batu nisan di Indonesia yang pada umumnya hanya menuliskan nama, tanggal lahir dan tanggal meninggal si mayit, tetapi batu nisan Usmani penuh dengan simbol-simbol yang berarti dan memuat informasi lengkap mengenai si mayit. Umumnya, batu nisan Usmani memiliki lebar sekitar 50 cm dengan tinggi satu hingga satu setengah meter dan memiliki bentuk turban pada bagian atas batu nisan.

Batu nisan tertua yang pernah ditemukan di Istanbul ialah milik seorang pekerja yang sedang membangun benteng Rumeli untuk mendukung penaklukan Istanbul pada tahun 1453. Pada nisannya hanya tertulis bahwa si mayit meninggal karena terjatuh ketika bekerja dan dituliskan pula tahun meninggalnya pada 1452 ketika benteng tersebut dibangun. Pada abad setelahnya, batu nisan Usmani lebih banyak menggunakan kata-kata dari bahasa Turki daripada bahasa Arab. Batu nisan Usmani juga telah distandarisasi sehingga memiliki format penulisan yang sama.

Dengan adanya standarisasi batu nisan seperti ini maka mereka yang telah pergi masih dapat dikenang dan diketahui identitasnya oleh generasi setelahnya. Batu nisan Usmani umumnya pada baris pertama selalu tertulis pujian kepada Allah SWT seperti “huvvel baki” yang berarti “Ialah yang Abadi”. Setelahnya dijelaskan riwayat singkat si mayit mengenai pekerjaan, posisi di pemerintahan atau militer, dan hubungan keluarga. Lalu dijelaskan pula sebab kematiannya serta tanggal atau tahun kematiannya. Pada baris paling akhir selalu berupa ajakan untuk membaca surat Al-Fatihah untuk ruh si mayit.

Disamping informasi tertulis mengenai si mayit, batu nisan Usmani juga memiliki simbol-simbol seperti berbagai macam jenis turban pada ujung batu nisan. Setiap jenis turban melambangkan jenis tarikat keagamaan berbeda pada zaman itu. Turban atau tutup kepala juga menunjukkan peringkat di militer atau pemerintahan di kesultanan Usmani. Bentuk batu nisan perempuan juga sangat unik. Jika batu nisan laki-laki berbentuk persegi panjang, maka untuk perempuan batu nisan dibentuk menyerupai lekuk tubuh perempuan. Kemudian ditambah ornamen-ornamen yang melambangkan kewanitaan seperti bunga mawar atau bros.

Kini, makam di Turki modern tampak berbeda. Tidak ada lagi simbol turban maupun bentuk batu nisan tinggi persegi panjang. Dengan bertuliskan bahasa Turki berhuruf latin, batu nisan Turki modern terkadang hanya memuat pujian kepada Allah seperti “huvvel baaki”, nama, tanggal lahir, tanggal wafat dan ajakan membaca surah Al-Fatihah untuk si mayit.


Fikri Rahmat
Penulis adalah mahasiswa S1 Ilmu Politik dan Hubungan Internasional, Yıldız Teknik Üniversitesi, İstanbul. Penerima beasiswa YTB 2014. Minat kajian sejarah politik, kebijakan publik, dan bahasa.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar