Erdoğan dan Davutoğlu Kompak Ziarah Kubur

16.18.00

"Apa rakyat Turki berteriak kepada dua tokoh tersebut sebagai ahli bid’ah? Secuil pun saya tak mendengarnya!"

[Erdoğan di Halaman Masjid Eyup, İstanbul. Foto +Sabah, 2/11/2015]
Minggu tanggal 1 November 2015, sekitar pukul 6 sore waktu setempat, masyarakat Turki sudah bersiap-siap menunggu hasil hitung cepat Pemilu ulang di layar kaca masing-masing, sebagian mantengin media sosial dan sebagian lagi, khususnya anak-anak muda, menjadi petugas independen untuk mengawal suara.

Saya merasakan betul atmosfir Pemilu ulang ini lebih hidup.  Karena rentang waktu selama 5 bulan setelah Pemilu pertama 7 Juni telah mengaduk-aduk emosi nyaris semua rakyat Turki. Yang paling tragis tentu serangkaian kekerasan dan tragedi: ledakan bom di Sanliurfa dan Ankara yang sepenuhnya meringkus emosi rakyat Turki.

Saya perhatikan detail apa yang akan menjadi tindakan AKP dari hasil Pemilu ulang kali ini. Yang membuat saya terkesima adalah detik-detik suara AKP mencapai di atas 48%, Ahmet Davutoğlu melalui akun twitternya menyapa rakyat Konya bahwa jam 21 malam akan ziarah ke makam Jalaluddin Rumi dan mengajak simpatisannya untuk berjumpa di halaman Rumi (dikenal dengan nama Mevlana Meydanı).

Sementara di Istanbul, pagi harinya waktu shalat subuh, Recep Tayyip Erdoğan shalat dan ziarah di makam Eyup, sahabat Nabi yang ada di Istanbul. Sempurna bukan praktik yang dituduhkan bid’ah oleh banyak orang?

Jangan dulu parno soal praktik ritual dan kultural seperti ini di Turki. Bahkan tokoh-tokoh seperti Erdoğan atau Davutoğlu yang sangat menjadi idola bagi sebagian kelompok Islam di Indonesia menunjukkan sisi unik dari tradisi mereka. Apa rakyat Turki berteriak kepada dua tokoh tersebut sebagai ahli bid’ah? Secuil pun saya tak mendengarnya!   
[P.M. Turki Ahmet Dabutoğlu. Foto +Karar.com - KARAR YAYINCILIK, 1/11/2-15]
Memang, sejak AKP berkuasa di bawah pemimpin Recep Tayyip Erdogan yang kharismatik itu, pelan-pelan masyarakat Muslim Indonesia dari kelompok Muslim-yang-kembali-terjaga mengelu-elukan sosok yang satu ini. Upaya-upaya mencari kesamaan akar historis pun dilakukan dengan semangat menggemaskan demi mendapatkan klaim yang tujuannya tentu politiis.

Akhirnya kata kunci “AKP berakar dari kelompok Islamis dan Ikhwanul Muslimin” pun ditemukan oleh mereka, diklaim sebagai kelompok satu kongsi. Kelompok-kelompok yang merasa mempunyai akar sama di Indonesia langsung gegap gempita, riang gembira bagai ke pesta. Maklum dong karena partai politik kembarannya terbukti memimpin Turki dengan kemajuan yang pesat, meski dalam banyak sisi juga melahap nyawa rakyatnya sendiri dan memberangus kelompok oposisi.

Tapi, apakah politisi AKP Turki nyinyir membawa nama Islam dalam tetek bengek politik mereka? Tidak! Persoalan mereka punya tujuan misalnya menjadikan Turki sebagai Neo-Ottoman tentu sah-sah saja. Yang berbeda adalah: politisi Islam di Indonesia nyinyir memamerkan Islam sementara di Turki mereka elegan dan penuh wibawa!

“Pak Jokowi, contoh Turki biar maju…” “Ibu negara Turki menangis ketika menjenguk pengungsi Rohingya di Aceh….” “Ibu Presiden Jokowi lagi arisan, atau lagi di dapur Istana…” adalah semisal contoh yang menyeruak di media sosial Indonesia. Meskipun akhirnya gambar kunjungan Ibu Presiden Turki terbukti hoax, mereka tetap ngeyel dan serangan demi serangan kasar terhadap Ibu Negara terus berlanjut. Di Indonesia semacam ada kredo “yang penting bisa menghina dan menjelek-jelekkan lawan. Soal benar atau salah belakangan!” Mungkin Indonesia sudah sumpek bagi mereka yang merasa dipimpin thogut sejak merdeka (?).

Bahwa Islam di Turki mulai menggeliat kembali seperti bahasa Arab mulai diajarkan di sekolah, identitas agama (jilbab) sudah bisa dipakai di mana saja, kursus Al-Qur’an sudah marak dilakukan dan ajakan untuk pemuda agar rajin ke masjid dan shalat subuh adalah benar adanya. Saya menyaksikan sendiri dan saya bersyukur atas kenyataan seperti ini. Sebagai Muslim tentu kemajuan yang beradab, berilmu pengetahuan dan berperikemanusiaan adalah cita-cita kita bersama, entah mungkin saja ada di antara kita yang tidak setuju. Itu boleh-boleh saja.

Perlu digarisbawahi bahwa Islam di Turki adalah vernakuler, diekspresikan oleh kultur khas Turki sendiri. Rakyat Turki menjalankan Islam berbarengan dengan tasawuf dan kultur mereka masing-masing. Meski tak ada tahlilan, mereka punya tariqat dan dergah, perkumpulan yang memraktekkan dzikir bersama dan doa. Jadi Anda tak perlu sedih apabila melihat masyarakat Turki kerap datang ke kuburan orang-orang alim.

Sebagai negara di mana sejarah Islam pernah ditoreh dengan tinta emas, tak aneh bila orang-orang alim dan tokoh besar lahir sebagai saksi peradaban. Di Şanlıurfa ada makam dan napak tilas Nabi Ibrahim dan Nabi Ayub. Di Diyarbakir, ada makam Nabi Zulkifli dan Nabi Ilyasa. Provinsi yang mayoritas suku Kurdi ini disebut sebagai “Kota Para Nabi,” kota yang mempunyai makam Sahabat Nabi paling banyak setelah Mekah dan Madinah. Di Istanbul misalnya ada banyak juga makam Sahabat Nabi; di Konya ada makam Jalaluddin Rumi dan Shem Tebriz; di Nevşehir ada makam Haji Bektash Wali. Jadi jangan terkejut kalau kalian melihat masyrakat lokal datang ke makam dan mendoakan mereka. Tapi jangan khawatir, orang Turki tidak akan menyembah kuburan, alih-alih minta sama kuburan. Masyarakat Turki mendoakan jasa-jasa para alim ulama sebagai penerus Nabi dan perawat peradaban Islam. Mereka dikenang dan dihormati sebagai alim ulama. Nah itu yang tertanam dalam alam bawah sadar masyarakat Turki.

Juga, Anda jangan marah kalau melihat nyaris semua pemerintah daerah di Turki setiap 10 Syuro memfasilitasi dan membuat acara khusus seperti bagi-bagi tajin kepada rakyatnya. Karena bagi orang Turki 10 Syuro bukan hanya milik kelompok Syiah saja, tetapi milik semua umat Islam.
Kekerasan terhadap kelompok Syiah yang pernah terjadi di Sampang Madura sudah pernah terjadi di Sivas, Turki tahun 1993. Dan sekarang sudah selesai (dalam artian tidak ada olok-olok dan provokasi) dan kelompok Syiah ataupun Alewi (yang ditengarai sebagai cabang Syiah) hidup normal dan damai. Tahun itu, kelompok Alewi yang bahkan oleh banyak orang Turki dianggap bukan Islam karena berbeda dari Syiah sendiri, dibakar oleh ribuan massa. Setelah itu selesai dan rakyat Turki mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa seperti ini.

Rakyat Turki sudah tidak kagetan lagi tentang isu agama. Karena yang mereka kedepankan adalah persaudaran umat Muslim itu sendiri. Ini persis sebagai pesan tunggal yang diajarkan Nabi dan juga penerusnya, seperti para sufi pendahulu mereka yang hingga hari ini tetap dihormati dan dikirimi doa-doa.

Ada yang unik juga, misalnya kesebelasan Turki sebelum laga Kualifikasi Piala Eropa 2016 melawan Belanda (7/9/2015). Mereka ziarah ke makam Jalaluddin Rumi di Konya. Saya tidak mendengar rakyat Turki berteriak bid’ah kepada mereka. Mereka berkirim doa dan mengenang sejarah! Karena dari sejarah itu pula mereka menjadi besar; mereka menatap masa depan dengan pijakan kokoh. Dan hidup mereka terus berjalan, terus bekerja keras untuk maju.

Akhirnya, buat sodara-sodara yang kenceng bingit mengidolakan Turki dengan AKP sebagai penguasanya, perlu melihat hal-hal partikular dari praktik kultural yang sudah menjadi kehidupan mereka. Lihat juga sisi-sisi lain khas Islam di Turki: tasawuf/sufi dan aspek-aspek ekspresi budaya mereka. 


Bernando J. Sujibto
Penulis dan Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi di Selcuk University, Konya Turki. Sedang merampungkan riset tesis tentang karya Orhan Pamuk. Follow Twitter @_bje.

Silahkan Baca Juga

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
22 Maret 2016 pukul 16.38 delete

Jangan-jangab Erdogan dan Davutoglu warga NU juga? Hahaha

Reply
avatar
22 Maret 2016 pukul 19.33 delete

Untuk ziarah kubur dan menghargai jasa-jasa pejuang para alim ulama harus NU dong, kak. Kan di Turki Islam emang sejalan dengan kultur mereka... :0

Reply
avatar